1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Unik, Dosen STP NHI Bandung membuat tepung dari kulit pisang

"Tepung kulit pisang ini tidak bisa menggantikan 100 persen penggunaan tepung terigu, hanya 20 persennya saja".

Selvi Novianti. ©2018 Merdeka.com Reporter : Astri Agustina | Minggu, 09 September 2018 10:43

Merdeka.com, Bandung - Pernah terbayang jika kulit pisang yang kerap menjadi sampah justru diolah menjadi sebuah tepung? Hal tak terduga itu dilakukan oleh dosen dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung. Soalnya, sebagai salah satu negara dengan penghasil pisang terbesar dan 90 persennya untuk dikonsumsi dalam negeri, tentunya limbah dari pisang ini sangat banyak.

Selvi Novianti, sang pencetus ide hadirnya tepung kulit pisang ini. Semula, ia berupa untuk menghadirkan sesuatu yang bermanfaat dengan mengolah limbah. Mengetahui bahwa limbah kulit pisang ini jumlahnya sangat banyak, ia terpikir untuk memanfaatkannya sehingga jadilah tepung kulit pisang berwarna cokelat itu.

Dosen program studi Manajemen Patiseri ini mengaku bahwa proses pembuatan tepung kulit pisang ini terbilang sederhana. Dari lima kali percobaan, hanya satu kali saja tepung yang dihasilkan tidak stabil. Selebihnya, ia berhasil memanfaatkan limbah kulit pisang ini menjadi dalah satu bahan untuk pembuatan kue seperti brownies.

"Kemarin saya melakukan lima kali percobaan, empat kali stabil dan satu kalinya tidak. Kehadiran tepung kulit pisang ini karena saya berupaya untuk membuat masyarakat itu mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu meskipun sebenarnya tepung kulit pisang bukan menjadi tepung pengganti terigu," ujar Selvi kepada Merdeka Bandung, Sabtu (8/9).

Dengan jumlah produksi pisang enam juta ton per tahunnya, 90 persennya dikonsumsi di dalam negeri, maka jika kulit pisang merupakan satu pertiga bagian dari berat total, akan dihasilkan limbah kulit pisang sebanyak 1.8 juta ton. Dengan pemanfaatan menjadi tepung kulit pisang, tentu saja akan mengurangi jumlah limbah tersebut.

Ia menjelaskan, proses pembuatan tepung dimulai dari kulit pisang raja bulu yang dicuci lalu dipotong-potong, dan direndam dengan natrium metabisulfit atau sodium metabisulfit. Ini merupakan salah satu pengawet makanan anorganik. Penggunaannya dilakukan guna membuat tepung agar memiliki warna yang tak terlalu hitam

Kemudian, kulit pisang dipanggang selama 12 jam. Setelahnya lalu dihancurkan dan diayak hingga menghasilkan tekstur yang sangat halus seperti tepung. Proses pengayakan dan pemanggangan ini harus dilakukan sempurna agar tepung bisa berhasil dibuat. Selain dipanggang, kulit pisang juga bisa dipanaskan secara manual oleh sinar matahari.

"Sebenarnya bisa dijemur tapi enggak boleh lebih dari tiga atau empat hari soalnya nanti malah timbul jamur dan menjadi sarang penyakit. Kalau untuk dipanggangpun suhunya enggak boleh lebih dari 60 derajat. Itu yang harus kita perhatikan untuk menghasilkan tepung kulit pisang yang sesuai keinginan," jelasnya.

Selvi menuturkan, penggunaan tepung kulit pisang tak bisa seutuhnya menggantikan penggunaan tepung terigu. Meski begitu, tepung kulit pisang ini dinilai bisa efektif untuk mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap tepung terigu. Untuk negara, tentunya penggunaan tepung ini bisa meminimalisir impor tepung terigu.

"Tepung kulit pisang ini tidak bisa menggantikan 100 persen penggunaan tepung terigu, hanya 20
persennya saja. Tapi, 20 persen juga tentunya signifikan untuk meminimalisir impor tepung terigu. Tidak bisa dijadikan sumber karbohidrat juga soalnya ini dibuat dari limbah, tapi tepung ini punya banyak nilai gizinya. Salah satunya tepung ini mengandung serat kasar yang baik untuk pencernaan," kata dia.

Soal rasa tepung kulit pisang ini, kata Selvi menghadirkan citarasa berbeda dengan tepung terigu. Rasanya tentu saja ada aroma pisang dan menghadirkan rasa vanili yang wangi. Hasil dari percobaan ini tentunya bukan untuk komersil. Ia bersama para jajaran dosen STP NHI Bandung membagikan ilmu perihal pengolahan kulit pisang kepada masyarakat khususnya ibu-ibu.

Ilmu perihal limbah kulit pisang ini dibagikan kepada 30 anggota Sekolah Ibu Perempuan Binangkit yang berada di bawah naungan LSM Perempuan Binangkit dalam acara ‘Pelatihan Manajemen Limbah Rumah Tangga serta Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang dalam Pembuatan Produk Makanan’, Sabtu (8/9).

Pada pelatihan kali ini, ibu-ibu diberikan wawasan mengenai cara membuat tepung kulit pisang serta mempraktekkannya dengan membuat produk makanan sendiri yaitu dadar gulung dan kue brownies yang terbuat dari tepung kulit pisang.

Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran ibu-ibu rumah tangga terhadap limbah rumah tangga, menambah wawasan mengenai manajemen pengelolaan limbah rumah tangga serta memberikan ide untuk memunculkan produk-produk makanan baru yang terbuat dari tepung kulit pisang.

Selain banyak manfaatnya bagi kesehatan, penggunaan tepung kulit pisang dapat menginisiasi untuk membentuk ukm-ukm baru produsen tepung kulit pisang.

(ES/AA)
  1. Info Kampus
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA