Ini ciri kacamata hitam untuk melihat gerhana matahari total


Dokter Iwan
Bandung.merdeka.com - Tidak semua kacamata hitam bisa dipakai untuk melihat gerhana matahari total (GMT) pada 9 Maret nanti. Kaca mata hitam komersial yang banyak dijual di pasaran tidak memiliki filter sinar ultraviolet dan infrared yang sesuai.
Bagi Anda yang ingin memiliki kacamata hitam khusus untuk melihat gerhana, sebaiknya tahu unsur-unsur yang harus terkandung dalam kacamata.
Direktur Medik dan Pelayanan Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata (RSM) Cicendo, Bandung, Iwan Sovani, mengatakan kacamata hitam untuk melihat gerhana harus dilengkapi dengan filter sinar ultraviolet dan infrared.
Kacamata tersebut harus mengandung filter khusus seperti yang ada pada teleskop khusus untuk meneropong matahari. "Ada unsur-unsur khusus pada kacamata yang berfungsi untuk menahan sinar matahari. Unsur tersebut meliputi lapisan tipis aluminium, chromium atau perak," kata Iwan, kepada Merdeka Bandung di RS Mata Cicendo, baru-baru ini.
Selain itu, kata dia, bisa juga menggunakan kacamata tukang las dengan tingkat kegelapan nomor 14. Namun, kacamata dengan filter khusus maupun kacamata tukang las tidak bisa dipakai lama-lama memandang matahari.
Menurut dia, sebaiknya kacamata dengan filter matahari tidak digunakan lebih dari dua menit berturut-turut. Kacamata itu juga tidak boleh dilepas selama mata masih memandang matahari.
"Yang tidak diketahui masyarakat, mereka menganggap kacamata hitam cukup melihat matahari. Padahal tidak. Kalaupun kacamata hitam yang pakai pelindung sinar ultraviolet sekalipun dia itu sebenarnya tidak cukup untuk mencegah sinar matahari (dalam waktu lama)," terangnya.
Contoh kacamata yang memiliki filter khusus adalah yang dikeluarkan Observatorium Bosscha. Mereka juga memiliki teleskop yang sudah dilapisi filter khusus.
Contoh tidak benar untuk melihat gerhana matahari adalah memakai klise foto atau melihat pantulan matahari melalui air.
"Karena pantulan sinar matahari tetap berbahaya bagi mata. Begitu juga dengan penggunaan klise film, klise X-ray, botol yang diisi pewarna, semua cara ini tidak aman digunakan untuk melihat gerhana matahari," ujarnya.
Sedangkan cara paling aman melihat gerhana matahari adalah dengan tidak melihatnya langsung, tetapi melalui cara proyeksi. Misalnya menggunakan kamera lubang jarum (pinhole) atau melihat matahari melalui layar.
Ia menegaskan, melihat gerhana matahari secara langsung sangat membahayakan kesehatan mata. Jika mata sudah rusak, tidak ada terapi atau pengobatan khusus. "Tindakan terbaik adalah mencegah melihat langsung gerhana matahari," tutur Iwan.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak