PKL Jalan Purnawarman Bandung ancam kembali jualan di trotoar


Bandung.merdeka.com - Puluhan PKL di Jalan Purnawarman mengancam akan kembali berjualan di trotoar. Hal ini disebabkan para pedagang telah direlokasi ke lahan parkir Bandung Electronic Center (BEC) harus pindah sementara karena akan dibangun gedung parkir.
Seperti diketahui, pada Meret 2016 lalu, Pemkot Bandung merelokasi puluhan pedagang yang berjualan di trotoar Jalan Purnawarman. Para pedagang sepakat direlokasi ke lahan parkir milik BEC yang masih berada di Jalan Purnawarman.
Namun saat ini masalah kemudian muncul, saat pihak pengelola BEC akan membangun gedung parkir di tempat relokasi para PKL. Kondisi membuat pedagang harus pindah sementara waktu selama masa pembangunan dari tempat relokasi tersebut.
"Tahun lalu kami direlokasi ke parkiran BEC, sekarang parkirannya akan dibangun gedung parkir, katanya pekerjaannya selama sembilan bulan. Kami bingung harus berjualan di mana selama pembangunan,” ujar Koordinator PKL Purnawarman Jalal Saputra kepada wartawan saat ditemui di sela aksi, Kamis (16/3).
Jalal mengatakan, dari tim Satgasus penataan PKL sebenarnya menawarkan kepada pedagang untuk pindah sementara waktu ke basement 5 BEC. Namun PKL menolak dipindahkan ke lokasi tersebut hanya cukup menampung 10 lapak, padahal ada 28 PKL kuliner yang berjualan di Jalam Purnawarman.
"Saya sudah ngobrol banyak dengan pihak BEC dan katanya hanya cukup 10 lapak sementara jumlah PKL yang tercantum sebanyak 28 PKL kuliner dan sudah berjalan. Dulu pernah menawarkan dan sekarang ditawarkan kembali (pindah ke basement), terus saya bersama PKL lainnya menolak," katanya.
Untuk itu Jalal meminta kebijakan kepada kepada Tim Satgasus agar diizinkan kembali berjualan di trotoar selama pembangunan berlangsung. "Hanya tetap harus mengikuti aturan seperti gerobaknya harus bongkar pasang, tidak permanen. Waktunya juga sesuai ketentuan dari pukul 10.00 sampai 18.00. Kami tidak mau kalau di B5 karena selain kapasitasnya kurang, pembeli pasti berkurang, juga ada service charge Rp 35 juta per bulan untuk satu lokal itu. Kalau kami ada 38 pedagang, berarti hampir Rp 1 juta. Jelas kami keberatan,” ungkapnya.
Dia berharap segera mendapatkan keputusan terkait hal tersebut. Sebab saat ini para pedagang tidak dapat berjualan karena pembangunan gedung parkir sudah mulai berjalan.
"Ini sudah digembok. Mau enggak mau kami kan mesti keluar karena kalau bertahan kami salah karena itu kan tanahnya BEC. Kami berharap segera ada keputusan. Inginnya sih Sabtu sudah bisa kembali berjualan,” ujarnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak