'Sathar Vol. 1: Past', pameran tunggal Riandy Karuniawan


Pameran karya Riandy Karuniawan
Bandung.merdeka.com - Lewat 'Sathar Vol. 1: Past', Riandy Karuniawan memamerkan hasil karyanya. Pameran yang dilangsungkan di World's End Gallery, Surapati Core, karya orisinil dari sampul album hingga merchandise band ditampilkan.
Pameran yang dilangsungkan hingga 31 Januari 2016 mendatang itu merupakan upaya Riandy mengajak para pengunjung dan penikmat seni untuk menyelami dunia imajinasi. Ia menggiring pengunjung pada dunia halusinasi pikiran kita sendiri yang terlalu sibuk dengan dunia serba konkret.
Namun, ia kembali memperlihatkan diri bahwa individualism seseorang yang tidak terbentuk dengan sendirinya. Ada kenangan, ada pengalaman, dan alam sekitar yang mempengaruhi. Bagi Riandy, 'Sathar Vol. 1: Past' merupakan responnya terhadap banyak pertanyaan yang bersifat personal tentang eksistensi dirinya sebagai manusia.
"Meskipun saya mendapat jawaban untuk beberapa pertanyaan dalam proses berpameran ini, saya memiliki banyak pertanyaan baru. Apresiasi dan respon dari pengunjung memperkuat keyakinan saya untuk terus menciptakan karya yang saya harap dapat menjadi 'taman bermain' bagi pemikiran banyak orang," ujar Riandy, Sabtu (10/12).
Pameran tunggal pertamanya ini, merupakan seri pertama dari tiga seri yang akan menjelajah perjalanan karirnya dari ilustrator menjadi seniman lukis dan multimedia. Menemukan makna dan ide dari pengalaman masa kecil dan fenomena alam, serta terinspirasi oleh karya Arik Roper, Moebius, Dali, and Roger Dean, karya Riandy menyelinap diantara dimensi paralel surealisme dan fantasi.
Pameran bertema 'Past' ini bertujuan untuk memberi gagasan kepada audiens tentang perjalanan karirnya hingga hari ini, serta menandai era kehadiran salah satu pelukis fantasi kontemporer muda Indonesia.
Riandy percaya bahwa individualitas seseorang dibentuk oleh ingatan, terutama kesadaran akan kenangan kita semasa hidup. Ia juga percaya bahwa pengalaman masa lalu yang disimpan dalam ketidaksadaran, cukup kuat mempengaruhi emosi kita, motif, dan keputusan di masa sekarang dan masa depan.
"Karya saya adalah tentang kebebasan berpikir, pendapat, persepsi, dan emosi. Kebebasan ekspresi penting bagi saya untuk merasa manusia dan hidup dalam identitas yang berbeda," paparnya.
Baginya, karya seni ini sebagai sebuah sebagai rekonstruksi dan komposisi bentuk, garis, dan perspektif, link, yang dideskripsikan ke dalam sebuah narasi. Harapannya tak lain ingin memberikan penikmat karya seni, sebuah kebebasan untuk menanggapi karya seni buatannya berdasarkan pemikiran sendiri, opini, persepsi, dan emosi mereka.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak