1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Masa sewa kontrakan habis, puluhan santri yatim tidur di teras

"Waktu sewanya sudah habis, rumahnya mau digunakan oleh yang punya," kata Giovani.

Santri Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf . ©2016 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Rabu, 09 Agustus 2017 22:41

Merdeka.com, Bandung - Puluhan santri Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf yang berada di Komplek Vijaya Kusumah, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, terpaksa tidur di teras pondokan. Selama kurang lebih dua pekan, 30 santriwan harus tidur beralaskan ubin lantaran pondokan yang menjadi tempat mereka menginap telah habis masa sewanya.

Dengan menggunakan spanduk dan selimut, para santriwan mendirikan tenda dadakan di teras pondokan. Seperti halnya tenda pengungsian, mereka terpaksa tidur di lokasi tersebut karena 'terusir' dari rumah kontrakan tempat sehari-hari menginap.

"Waktu sewanya sudah habis, rumahnya mau digunakan oleh yang punya. Katanya mau dipakai sama anaknya," ujar Pimpinan Ponpes Al-Kasyaf, Giovani Van Rega kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Ponpes Al Kasyaf, Rabu (9/8).

Dia mengatakan, di Ponpes Al Kasyaf sendiri terdapat 7 bangunan yang menjadi tempat tinggal para santri. 4 rumah digunakan oleh santriwan dan 3 rumah digunakan oleh santriwati. Dari jumlah tersebut tiga rumah yang masa sewanya sudah habis.

Giovani mengaku, pihaknya berusaha untuk mencari rumah tinggal bagi santrinya. Namun karena harganya yang sangat mahal, hingga saat ini pihaknya belum menemukan tempat yang cocok.

"Harga rumah sewa di sini sampai Rp 25 juta setahun. Kami belum ada biaya sampai segitu. Kami hanya punya uang Rp 9 juta dari kencleng dan sumbangan," kata dia.

Karena keterbatasan, pihaknya terpaksa menggunakan teras pondokan yang ada untuk tempat tidur santri. Para santri sendiri yang mendirikan tenda darurat yang berada di teras.

Giovani sendiri mengaku tidak tega jika harus melihat para santrinya tidur di teras. Namun karena kondisi belum memungkinkan, para santri tidur di teras meskipun harus berdesak-desakan.

"Semoga segera ada tempat baru untuk para santri," ungkap Giovani yang mendirikan pesantren tersebut sejak tahun 2013.

(FF/DR)
  1. Sosial
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA