1. BANDUNG
  2. HALO BANDUNG

Ciptakan penyaring gas ramah lingkungan, mahasiswa ITB diganjar penghargaan

Automaxil mempunyai lima komponen penyaring utama yang selanjutnya disebut 5 in 1.

Penghargaan untuk mahasiswa ITB. ©2018 Merdeka.com Reporter : Dian Rosadi | Selasa, 11 September 2018 16:55

Merdeka.com, Bandung - Mahasiswa ITB berhasil meraih penghargaan setara perunggu untuk kategori presentasi Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31. Automaxil, karya yang mengantarkan ketiganya mengalungi medali perunggu dalam Penutupan Pimnas 31 di Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (1/9) lalu.

Automaxil atau Automatic Exhaust Gas Filter Machine adalah alat penyaring gas buang kendaraan bermotor secara otomatis berbasis 5 in 1. Alat ini berfungsi untuk menyaring gas buang kendaraan bermotor dalam ruang bengkel. Memiliki tujuan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan kerja (K3) para mekanik bengkel, maka diharapkan adanya alat ini dapat meningkatkan produktivitas kerja mereka, serta mengurangi polusi udara sehingga dapat menghambat pemanasan global.

Automaxil mempunyai lima komponen penyaring utama yang selanjutnya disebut 5 in 1, yaitu sistem otomatisasi, tiga tabung penyaringan yang masing-masing berisi karbon aktif, batuan zeolit, dan larutan NaOH, serta sistem buka-tutup menggunakan automatic valve. Konstruksi prototype Automaxil dibagi menjadi dua bagian, yaitu kotak penampung gas buang dan kotak penopang tabung-tabung penyaringan.

Alat ini akan menyaring kandungan zat-zat berbahaya dalam gas buang kendaraan bermotor yang dimasukkan ke dalam kotak penampung berdasarkan konsentrasi gas CO dalam gas buang yang terdeteksi oleh sensor CO. Jika konsentrasi gas CO lebih dari ambang batas normal sebesar 9 ppm (sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI), maka lampu indikator merah akan menyala, buzzer berbunyi, serta blower mulai berputar untuk menyerap gas buang tersebut yang kemudian disalurkan ke dalam tabung-tabung penyaringan.

Pada kondisi ini, katup automatic valve akan menutup sehingga gas buang tidak akan keluar dari kotak penampung. Zat-zat berbahaya dalam gas buang akan disaring oleh karbon aktif, batuan zeolit, serta larutan NaOH kemudian dikembalikan lagi ke dalam kotak penampung.

Jika konsentrasi gas CO sudah di bawah 9 ppm, maka lampu indikator warna hijau akan menyala dan katup terbuka untuk mengeluarkan gas yang telah bersih. Namun, jika konsentrasi gas CO masih melebihi 9 ppm, proses penyaringan akan terus berlanjut sampai konsentrasi gas CO yang terdeteksi kurang dari 9 ppm.

Salah seorang anggota tim, Kresna Rahayu mengatakan alat ini dibuat setelah ia melihat kondisi pengelolaan gas buang di bengkel yang masih sangat buruk yaitu langsung membuangnya ke selokan melalui selang peredam knalpot, bahkan ada yang langsung dilepaskan ke udara bebas begitu saja. Padahal, kondisi tersebut dapat mencemari lingkungan.

Udara yang tercemar dalam ruangan bengkel akibat gas buang tersebut dengan konsentrasi gas CO > 9 ppm juga dapat membahayakan kesehatan pekerja karena dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, lemas, mual-mual, penurunan konsentrasi hingga kematian jika kadarnya terlalu tinggi.

Kresna mengatakan, sebelum melakukan presentasi dalam ajang Pimnas 31, pihaknya sudah melakukan uji efektivitas dan uji emisi di Kantor Inspeksi Kendaraan Dinas Perhubungan Kota Bandung. Hasilnya, kandungan hidrokarbon (HC) dan karbon monoksida (CO) dalam gas buang mengalami penurunan hampir setengahnya setelah menggunakan Automaxil.

"Rencana berikutnya, alat ini akan dikembangkan untuk dikombinasikan dengan teknologi sintetik biologi melalui keilmuan mikrobiologi," ujar Kresna seperti dikutip laman ITB.

Tujuannya lanjut Krena yakni untuk mengurai zat-zat berbahaya yang telah terperangkap dalam bahan-bahan penyaringan agar tidak berbahaya bagi lingkungan setelah dibuang.

Tak hanya meningkatkan K3 para mekanik bengkel, Wawan Adi Pratama (Teknik Mesin 2016), Kresna Rahayu (Mikrobiologi 2016), dan Rio Dwi Putra Perkasa (Teknik Informatika 2015) sebagai pencipta Automaxil juga ingin menampilkan kearifan lokal dalam karyanya. Mereka menggunakan bahan kayu untuk casing Automaxil dengan cat motif batik pada permukaannya.

"Tujuan pemakaian motif batik ini untuk memperkenalkan budaya bangsa dan juga memberdayakan seniman lokal," ucapnya.

(MT/DR)
  1. Info Kampus
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA