1. BANDUNG
  2. GAYA HIDUP

Penyakit rematik lebih banyak menyerang wanita

Penyakit rematik memiliki banyak jenis, tercatat ada lebih dari 100 jenis.

Ilustrasi. ©2016 Merdeka.com Reporter : Iman Herdiana | Minggu, 09 Oktober 2016 15:09

Merdeka.com, Bandung - Rematik menjadi salah satu penyakit yang banyak dikeluhkan masyarakat. Namun penyakit yang menimbulkan nyeri persendian ini rupanya lebih banyak menyerang wanita daripada pria.

Menurut Dr. Andry Reza Rahmadi, penyakit rematik memiliki banyak jenis. Ia mencatat lebih dari 100 jenis. Salah satu jenis penyakit yang paling sulit penyembuhannya adalah artritis rematoid (AR).

“Ada jenis rematik yang timbul akibat peradangan sendi akibat dari sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif. Sehingga sistem kekebalan tubuhnya itu menyerang badannya sendiri. Itu kita namakan artritis rematoid,” kata dokter dr. Andry Reza Rahmadi, saat berbincang dengan Merdeka Bandung baru-baru ini.

Dokter dari Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung ini menjelaskan, ciri-ciri artritis rematoid adalah timbul nyeri yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Gejala ini bisa dirasakan di persendian tangan kanan dan kiri.

Ciri lain misalnya saat bangun tidur pada pagi hari persendian terasa kaku, biasanya lebih dari satu jam. Gejala itu diikuti pembengkakan di sendi tangan, sendi jari, pergelangan tangan, bahu, lutut hingga pergelangan dan jari kaki.

“Gejalanya tersebut juga disertai gejala klenik lain seperti demam tinggi, lemah badannya dan mual,” ujarnya.

Artritis rematoid banyak menyerang pada usia antara 30-40 tahun. Tapi tidak menutup kemungkinan menyerang pula usia lebih muda atau lebih tua.

“Tapi yang terbanyak di usia pertengahan. Penyakit ini biasanya paling banyak menyerang wanita. Empat wanita banding satu pria,” katanya.

Selain dipicu fakto usia, artritis rematoid juga muncul karena faktor genetik. Kode-kode genetik atau DNA yang ada pada seseorang yang menjadi juga faktor resiko penyakit ini.

“Apabila seseorang punya DNA tertentu dia lebih mudah untuk terjadi penyakit seperti ini. Hal itu diturunkan dari orangtua ke anak meski belum tentu juga penyakit ini pasti diturunkan,” ujarnya.

(FF/IH)
  1. Info Kesehatan
SHARE BERITA INI:
KOMENTAR ANDA