Setelah 61 tahun, pertama kali kaum difabel dilibatkan peringatan KAA

user
Farah Fuadona 16 April 2016, 15:45 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) kali ini ada yang berbeda. Untuk pertama kalinya kaum disabelitas dilibatkan dalam acara tahunan memeringati konferensi yang menjunjung tinggi toleransi dan kesetaraan itu.

“Kaum disabilitas kan biasa ditampilkan kasihan, nah kita mau ubah itu biar orang kagum pada kaum disabilitas, karena mereka akan tampil bernyanyi, main musik dan membacakan puisi dalam Bahasa Inggris,” kata Kepala Cabang Rumah Autis Bandung, Juju Sukma, kepada Merdeka Bandung.

Dalam pembukaan peringatan KAA Minggu (17/4) nanti setelah pengibaran 109 bendera negara Asia dan Afrika plus bendera Perserikatan Bangsa Bangsa, ada Parade Budaya Asia Afrika.

Puluhan anak-anak disabilitas dari Rumah Autis dan Apresiasi Seni Kelompok Anak Juara (Askara) akan turut dalam parade tersebut. Mereka akan memainkan musik angklung, drum band, dan lain-lain.

“Kalau dari kita ada 30 sampai 40 anak-anak difabel yang bergabung dengan anak-anak lainnya,” kata Juju.

Ia menambahkan, dengan melibatkan anak-anak difabel diharapkan bisa ditemukan adanya filosofi dan idelaisme KAA 1955. Peringatan ini sebagai momen mewariskan kembali filosofi dan idelaisme KAA 1955 yang membebaskan kolonialisme dan imperialism.

“Kami dari disabilitas diikutsertakan dalam momen bersejarah, ikut parade bersama ini yang pertama kali. Insya Allah akan diteruskan ke generasi muda lainnya,” kata Juju.

Sementara Kepala Museum KAA Thomas Ardian Siregar menambahkan, tahun ini memang pertama kalinya kaum difabel dilibatkan dalam peringatan KAA. “Kita rangkul berbagai kalangan termasuk yang disabilitas. Saya sebagai Kepala Museum KAA tugasnya membuka gerbang, intinya sinergitas dengan semua kalangan dan komunitas,” ungkap Thomas.








Kredit

Bagikan