Keajaiban iktikaf dan tangis Aan tentang hidup dan mati


Itikaf di Masjid Habiburrahman
Bandung.merdeka.com - Aan (38), menjadi salah satu jemaah yang langganan beriktikaf di Masjid Habiburrahman. Tinggal dan beribadah di masjid yang berseberangan dengan PT Dirgantara Indonesia itu membuatnya ketagihan.
"Sejak 99 pertama kali dibuka iktikaf di sini, saya merasa cocok," kata Aan kepada Merdeka Bandung, kemarin.
Waktu itu Aan memulai iktikaf sejak kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Kini Aan sudah dikarunia 3 anak hasil pernikahannya dengan Ridho (32). Mereka sekeluarga biasa beriktikaf selama 10 hari di masjid yang didirikan BJ Habibie itu.
"Iktikaf di sini saya merasa lebih menemukan sesuatu. Akhirnya tiap tahun ketagian untuk kembali ke sini," tutur perempuan berkerudung yang sehari-hari mengajar ilmu biologi.
Iktikaf di masjid tentu bukan ibadah biasa. Iktikaf di Masjid Habiburrahman dimulai tanggal 21 sampai 30 Ramadan. Selama itu jemaah mengikuti program masjid maupun ibadah pribadi.
Program masjidnya adalah salat tarawih dan salat malam (qiyamullail). Surat Alquran yang dibacakan imam saat salat tersebut sebanyak 3 juz, sangat panjang. Sehingga pada hari ke-10, jamaah sudah mengkhatamkan Alquran.
"Capek sih tentu capek, beribadah siang malam. Tinggal di masjid tentu tak senyaman tinggal di rumah," kata perempuan yang tinggal di Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Namun di tengah rasa capek itu ia merasakan pengalaman spiritual yang berbeda dari bulan-bulan biasa. Pengalaman itu hanya bisa ia rasakan secara pribadi, sulit digambarkan dengan kata-kata.
"Saya menemukan sesuatu yang membuat ketagihan, tiap tahun merindukan momen ini. Mungkin ini hanya dirasakan saya saja, tapi mungkin bagi orang lain yang beriktikaf di sini juga merasakan yang lebih ajaib lagi," ujarnya merujuk pada ratusan jamaah yang juga beriktikaf di masjid tersebut.
Menurut dia, banyak jamaah yang iktikaf datang dari luar Jawa. Malah ada yang sambil mudik kemudian mampir dulu untuk beriktikaf. "Pengalaman dan perjuangan orang luar Jawa pasti lebih berat lagi," katanya.
Di sela iktikaf, Aan juga bersilaturrahmi dengan sesama jamaah yang datang dari berbagai tempat di Indonesia. Jika sahur atau buka puasa, mereka biasa berbagi makanan.
Pelajaran yang didapat dari iktikaf, menurut Aan adalah mudahnya menemukan kesadaran. Kesadaran akan hidup dan mati. "Kesadaran itu sampai membuat saya menangis," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak