Tenda para pencari pahala


Itikaf di masjid
Bandung.merdeka.com - Sejumlah tenda berdiri hampir mengelilingi pelataran Masjid Habiburrahman, Bandung. Tenda-tenda tersebut didirikan jemaah masjid yang melaksanakan iktikaf atau tinggal di masjid selama 10 hari di penghujung Ramadan.
Tenda tersebut berdiri di bagian depan dan samping masjid yang berseberangan dengan PT Dirgantara Indonesia itu. Barisan tenda ditata dengan rapi. Jemaahnya kebanyakan sudah berkeluarga, bahkan ada yang membawa anak masih bayi.
Jemaah yang iktikaf bukan hanya dari Kota Bandung, tetapi banyak pula yang datang dari luar Bandung. Selama iktikaf, mereka harus meninggalkan kehidupan duniawi dan khusyuk beribadah.
Salah satu jemaah, Didi (37), datang jauh-jauh dari Sumedang bersama istri dan dua anaknya. Didi membawa tenda sendiri. Panitia masjid kemudian memberinya kaveling untuk mendirikan tenda di halaman.
Didi mengaku tiap tahunnya selalu menjalankan iktikaf di masjid yang berdiri di seberang PT Dirgantara Indonesia itu. "Sudah 10 tahun lalu saya biasa iktikaf di sini. Jadi seperti ketagihan," kata pria petani jamur tiram tersebut.
Iktikaf di masjid yang didirikan BJ Habibie itu menurut Dudi berbeda dengan iktikaf di masjid-masjid lain. Salah satu daya tariknya adalah salat malam atau qiyamullail.
"Terawih dan qiyamullail di sini berbeda dengan tempat lain. Di sini imamnya membacakan surat tiga juz. Jadi selama 10 hari itikaf kita jadi khatam Alquran," katanya.
Kelebihan lain, kata Didi, iktikaf di Masjid Habiburrahman juga terbuka untuk keluarga. Panitia masjid menyediakan fasilitas untuk keluarga. "Anak-anak juga senang. Mereka justru menunggu momentum ini. Mereka senangnya tidur di tenda," katanya.
Sedangkan untuk tenda, ia membawa sendiri dari rumah. Sebelum mendirikan tenda, ia melakukan pendaftaran terlebih dahulu kemudian membayar infaq ke panitia iktikaf.
Di singgung mengenai pengalaman spiritual selama melakukan iktikaf, ia mengaku sulit sekali mengungkapkan. "Yang jelas ibadah kita jadi khusyuk. Selain itu bacaan ayat yang dibacakan imam membuat kita larut, bisa sampai nangis," ujarnya.
Ada juga jemaah yang datang dari Depok, yakni Yupi (39). Yupi membawa seorang istri dan tiga anaknya. Dia mengaku mulai menjalani iktikaf Ramadan sejak 2003.
Senada dengan Didi, alasan Yupi beriktikaf di Masjid yang didirikan BJ Habibie itu karena surat-surat yang dibacakan imam saat tarawih maupun qiyamullail.
"Pembacaan surat di sini panjang-panjang. Susah mencari masjid seperti ini. Ke depan saya ingin terbiasa membaca lama Alquran," kata pria yang sehari-hari berdagang tersebut.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak