Dulu tempat ini elite buat nongkrong bule di Bandung, sekarang kumuh


Bandung.merdeka.com - Di masa lalu anak muda Indo-Belanda Bandung biasa nongkrong di Bioskop Rivoli yang kini Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan A Yani. Gedung ini dibangun pada 1930. Hingga 1970-an, bioskop ini masih menjadi tempat kongkow favorit orang-orang Indo-Belanda.
Namun zaman terus berubah, tempat elit meneer dan noni Belanda itu berubah fungsi. Di masa Gubernur Jawa Barat Solihin GP, nama dan fungsi Gedung Rivoli berubah menjadi Gedung Kesenian Rumentang Siang. Gedung ini tidak lagi menjadi bioskop tetapi sebagai gedung kesenian.
Hingga kini Gedung Kesenian Rumentang Siang masih berdiri, posisinya di sebelah kanan pasar Kosambi. Lokasi gedung kesenian ini terbilang strategis karena berdiri di sekitar jantung kota. Tiap harinya aktivitas kesenian terus menggeliat.
Kondisi kini tentu jauh berbeda dengan dulu. Dulu banyak bule Belanda yang nongkrong mau nonton film, kini tidak ada lagi pemandangan bule-bule. Sekitar gedung terkesan kumuh karena dikepung PKL.
Salah satu pegiat seni di Rumentang Siang, Moel MG, mengatakan aktivitas seni di gedung heritage tersebut masih terus berjalan. Hampir tiap hari generasi muda melakukan kegiatan. Ada yang pentas atau sekadar latihan-latihan, katanya kepada merdeka.com.
Tradisi aktivitas seni di Rumentang Siang mulai terbentuk sejak gedung ini ditetapkan sebagai tempat pertunjukan kesenian kontemporer, tradisional, sastra dan budaya pada 1975. Jenis keseniannya meliputi tari tradisional dan modern, teater, pembacaan puisi, musik dan lain-lain.
Meski gedung tua, Rumentang Siang memiliki keistimewaan khas yang jarang dimiliki gedung modern, yaitu ruang pertunjukan dengan unsur akustik kuat. Banyak yang memuji gedung ini memiliki unsur akustik tinggi. Unsur akustik kan sangat diperlukan untuk menggelar pertunjukkan, jelasnya.
Selain itu, Rumentang Siang mewarisi nilai arsitektur lagi booming pada era 1920-an, yakni art-deco. Gedung dua lantai ini terbagi ke dalam beberapa ruangan, ada paviliun yang digunakan sebagai kantor, gedung pertunjukan berkapasitas 350 penonton, sedangkan di lantai dua menjadi pusat latihan tari.
Sejumlah seniman besar pernah menapaki kariernya di gedung ini, di antaranya Didi Petet, Putu Wijaya, Sujiwo Tejo, Ki Daus hingga Deddy Mizwar. Di bidang teater gedung ini turut andil dalam membesarkan teater kenamaan Bandung, Study Teater Bandung (STB) dan Teater Sunda Kiwari, dua kelompok teater yang menginspirasi generasi muda.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak