Ridwan Kamil: Banyak kota hanya fokus bangun ekonomi


Bandung.merdeka.com - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil diundang menjadi pembicara simposium acara World Culture Forum (WCF) 2016, di Nusa Dua Bali, Selasa (11/10). Pria yang akrab disapa Emil ini membagi pengalamannya membangun kota, di mana salah satunya dilakukan dengan pendekatan budaya.
"Kota yang gagal biasanya tidak menyeimbangkan tiga hal, pertama relasi terhadap alam, relasi terhadap manusia dan budaya, serta relasi terhadap Tuhan. Tidak punya ketiganya, kota itu cenderung menjadi suatu dimensi yang terbatas," ujar Ridwan dalam rilis yang diterima Merdeka Bandung, Selasa (11/10).
Pria yang akrab disapa Emil ini menilai, selama ini banyak kota di dunia hanya berfokus membangun sektor ekonomi sebagai indikator kemajuan sebuah kota. Padahal ada aspek lain yang perlu diseimbangkan dalam membangun sebuah kota.
"Banyak kota di dunia yang fokusnya hanya membangun ekonomi seolah setelah sejahtera kaya bahagia, padahal tidak. Itu menunjukkan banyak kota maju masyarakatnya gak betah gak bahagia," katanya.
Menurut Emil, tiga hal tersebut telah diterjemahkan di Bandung dengan memperbanyak ruang - ruang alam, ruang - ruang interaksi, ruang budaya, festival, ruang kemanusiaan.
"Saya suka menyapa warga miskin tapi ada sisi religiusnya ada maghrib mengaji, kunjungan ke gereja, vihara dan lain sebagainya. Kuncinya seimbang," ucapnya.
Selain itu lanjut Emil, di tengah era teknologi, interaksi fisik masih sangat penting dilakukan. Teknologi cukup untuk memudahkan tanpa harus menghilangkan kemanusiaan.
"Budaya kan ekspresi manusia saya selalu bilang teknologi itu memudahkan, tapi jangan sampai menghilangkan kemanusiaan, dan teknologi ini punya sisi baik dan buruk. Interaksi fisik masih penting ketemu orang penting gak bisa direduksi di ruang digital saja, maka ruang budaya itu penting karena manusia itu makhluk yang multidimensi," ungkapnya.
"Jika manusia dimensinya dibatasi oleh teknologi, setengah dimensi lainnya tidak tereksplor disitulah letak lahirnya stres, kejahatan, intoleran, karena tidak pernah bertemu. Di Bandung ruang fisik itu paling penting, bagi saya itu tujuan paling baik," tambahnya.
Emil juga memiliki harapan besar kepada generasi muda. Menurut dia pemuda ini harus menggali nilai-nilai budaya, antara pemuda yang kalah atau yang menginspirasi dunia.
"WCF ini kuncinya memberi pesan, keberhasilannya diukur apakah pesannya sampai atau tidak. Kalau pesannya sampai dengan platform kebijakan dan peraturan berarti berhasil," pungkasnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak