Membaca peristiwa sejarah lewat surat-surat pribadi

Diskusi surat kuno Ulin Bandoeng
Bandung.merdeka.com - Jauh sebelum munculnya telepon dan internet, surat dan kartu pos menjadi satu-satunya media komunikasi. Semua pesan ditulis lewat surat, baik masalah personal maupun gejolak politik dan sosial yang berdampak pada kehidupan pribadi.
“Lewat surat kita bisa memahami suatu peristiwa besar di masanya. Misalnya peristiwa G30S 1965. Peristiwa ini begitu dahsyat hingga ditulis dalam surat-surat personal,” kata kolektor arsip Murwidi (50), Minggu (6/3).
Murwidi merupakan kolektor surat yang berbicara dalam diskusi Ulin Bandoeng dengan tema Bandoeng Dalam Sorotan Doenia: Kisah Di Balik Surat-Menyurat dari Bandung/ ke Bandung 1890-1942, di Balubur Town Square (Baltos), Jalan Taman Sari, Bandung.
Melalui surat, lanjut dia, bisa ditangkap peristiwa penting di masa lalu. Contohnya, ia menemukan surat dari seorang istri yang menceraikan suaminya gara-gara peristiwa G30S 1965.
“Tragis istri ceraikan suaminya, dampak politik bisa merusak rumah tangga. Suratnya dalam bentuk kartu pos sehingga bisa mudah dibaca. Dengan jejak seperti itu kita jadi paham betapa dahsyatnya peristiwa itu,” ungkap Murwidi.
Ia juga mendapat arsip tentang ikrar sertia yang harus dilakukan keturunan Tionghoa yang akan menjadi pegawai negeri. Ikrar ini menjadi bukti bahwa warga Tionghoa di masa lalu menghadapi pilihan harus memilih menjadi Warga Negara Indonesia atau warga Republik Rakyat Tionghoa.
“Soal warga keturunan harus memilih warga negara itu jejaknya masih ada,” katanya.
Surat unik lainnya adalah surat-surat yang dikirim orang Keraton Solo di masa Kolonial Belanda. Surat itu berasal dari Ambon. Surat ini bentuknya korespondensi, di antaranya menceritakan situasi dan kondisi di Ambon.
“Surat tersebut menunjukkan si penulisnya dibuang oleh pemerintah kolonial ke Ambon. Artinya ada gejolak politik di Solo yang membuat dia harus dibuang,” terangnya.
Dalam diskusi tersebut juga dipamerkan surat-surat di masa lalu koleksi Murwidi. Umumnya, surat ditulis dalam bahasa campuran antara melayu, daerah, Belanda, Inggris. Masa itu memang belum ada Bahasa Indonesia.
Diskusi tersebut dipandu moderator dari Komunitas Gamboeng Vooruit, Andrenaline Katarsis. Menurut Katarsis, tulisan bersifat lebih abadi daripada ucapan. Buktinya dengan surat-surat di masa lalu yang hingga kini masih bisa ditemukan dan dianalisis.
“Tulisan akan mengabadi, yang terucap akan berlalu seperti angin,” katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak