Meneladani komunitas pecinta Sungai Cikapundung


Bandung.merdeka.com - Kota Bandung dibelah Sungai Cikapundung. Di masa lalu tentu air sungai ini jernih. Kini seiring padatnya penduduk, warna air berubah jadi cokelat dan penuh sampah plastik. Banyak warga yang membuang sampah sungai, tapi ada juga yang peduli.
Warga yang tidak peduli dengan kelestarian sungai tentu tidak perlu ditiru. Sedangkan warga yang menyayangi sungai, harus dicontoh. Komunitas Sungai Cikapundung Kuya Gaya menjadi salah satu kelompok warga Bandung yang rajin membersihkan Sungai Cikapundung.
“Kesadaran warga memang belum maksimal, tapi sudah mulai ada perubahan. Selama ini kita hanya imbau dan memberi contoh. Jika masih ada warga yang bandel, ya kita tidak bisa apa-apa untuk melarang,” kata Ketua Komunitas Sungai Cikapundung Kuya Gaya, Handoyo, saat berbincang dengan Merdeka Bandung beberapa waktu lalu.
Jika dibandingkan dengan dulu sebelum ada komunitas-komunitas yang peduli sungai, menurut pria 56 tahun ini kondisi Sungai Cikapundung saat ini sudah lebih baik. Namun bagaimanapun kerja komunitas berbeda dengan pekerja-pekerjaresmi yang bertugas membersihkan sungai.
Komunitas tidak memiliki kewenangan melarang warga membuang sampah ke sungai. Meski demikian komunitas ini tidak kehabisan akal. Mereka rutin menggelar kegiatan yang menutup ruang-ruang buang sampah sembarangan.
Salah satu kegiatannya lewat kukuyaan atau peragu dari ban mobil. “Dengan melihat kita kukuyaan, masa sih tega masih buang sampah ke sungai,” katanya.
Permainan air kukuyaan dilakukan sambil melakukan sosialisasi membangun kecintaan terhadap sungai terpanjang di Kota Bandung itu. Tidak jarang kukuyaan dilakukan dengan program bersih-bersih sungai yang rutin dijalankan tiap Jumat.
Handoyo menjelaskan, pekerjaan komunitas tidak hanya menyadarkan warga agar tidak membuang sampah ke sungai. Komunitas ini aktif dalam melakukan pencegahan bencana banjir, longsor, evakuasi hingga mengurus taman. Salah satu taman yang dikoordinir komunitas ini adalah Teras Cikapundung.
“Kerja kita bukan hanya soal sampah tapi mengangkat batang kayu yang roboh dengan alat manual, pakai kampak dan tambang. Kadang di lokasi yang susah. Tapi justru itu yang disenangi komunitas, ada tantangannya,” tutur ayah dua anak dan tiga cucu ini.
Komunitas ini mengkoordinir sejumlah kelompok kerja. Anggotanya ada 60 orang. Komunitas ini mulai aktif sejak 2008. Sekretariatnya terletak di Kampung Pulosari, tepatnya di bawah jalan layang Pasupati, Bandung.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak