Kisah Helmi, bocah yang terbakar kakinya saat ikut kemah di sekolah

user
Farah Fuadona 17 Juli 2017, 17:56 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Nasib nahas harus dialami Helmi Zain Ramdhani (11). Putra kedua dari pasangan Endang Wahyu Hidayat (38) dan Mea Nursanti (40) ini harus terbaring di tempat tidur karena luka bakar parah di kedua kakinya. Kedua kakinya mengalami luka bakar serius saat mengikuti acara acara api unggun Pramuka yang yang digelar di sekolahnya Februari lalu. Akibatnya kedua kaki bocah tersebut, mulai dari mata kaki hingga pangkal paha mengalami luka bakar dengan luas luka bakar mencapai 36 persen.

Ibunda Helmy, Mea Nursanti mengatakan, peristiwa tersebut terjadi saat anaknya mengikuti kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) di sekolahnya yakni di SD Plus Al Aitaam, Bojongsoang. Musibah terjadi saat salah seorang gurunya yang akan menyalakan api unggun, menyiramkan bensin ke api unggun. Tiba-tiba api menyambar tangan gurunya dan dengan refleks melempar botol berisi bensin yang dipegangnya.

"Botol itu mengenai anak saya. Akibatnya anak saya terbakar kedua kakinya bagian depan maupun bagian belakang mulai dari pergelangan hingga ke pinggul," ujar Mea kepada wartawan saat ditemui di kediamannya, Komplek Pandan Wangi Blok A No 10, Jalan Kencana Wangi VI, RT 003/009, Kelurahan Cijawura, Kecamatan Buah Batu, Senin (17/7).

Mea yang bersama suaminya berada di lokasi, langsung membawa anaknya ke klinik terdekat dan dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah. Namun karena kondisinya sudah sangat parah, Helmy kemudian dirujuk kembali ke Rumah Sakit Hasan Sadikin.

"Pada saat itu menurut dokter luka bakarnya sekitar 25 persen di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Di situ dirawat selama empat bulan kemudian dibawa kerumah karena keterbatasan kemampuan untuk merawat anak Saya," katanya.

Selama di RSHS, Helmi harus menjalani serangkaian operasi. Sedikitnya Helmi menjalani sembilan kali operasi untuk menyembuhkan luka bakar yang ada di kedua kakinya.

"Waktu di Hasan Sadikin sudah dioperasi 9 kali cuman yang ke-10 kalinya Saya tidak tega, sehingga menolak. Apalagi walaupun sudah 9 kali dioperasi belum kelihatan ada perubahan, Saya enggak tega ketika melihat anak saya dioperasi. Melihat anak Saya sampai menjerit-jerit di bilang 'Ya Allah ampuni Saya Mamih, Maafkan Aku' karena saking sakitnya dia menjerit seperti itu," kata Mea.

Saat ini Helmi menjalani pengobatan di rumah, karena katerbatasan biaya. Sebelumnya Helmi pun sempat berobat ke Rumah Sakit Borromeus, namun lagi-lagi karena terkendala biaya. Adapun pihak sekolah Helmi sendiri hanya mau menanggung biaya pengobatan selama 2 minggu saat masih dirawat di RSHS.

"Karena terkendala biaya saya tidak sanggup melanjutkan (pengobatan). Dari sekolah sendiri sudah pernah memberikan bantuan untuk pembiayaan di RSHS selama dua minggu. Kemudian gurunya juga memberikan pelajaran kepada Helmi dirumah tapi karena kondisi anaknya masih sakit tidak optimum," katanya

Mea pun mengaku tidak akan banyak menuntut kepada pihak sekolah. Dia hanya berharap anaknya segera pulih dan kembali sekolah seperti biasa.

"Hingga saat ini sebenarnya Saya sudah maafkan. Bagi Saya sekarang yang penting bagaimana yang bisa cepat sembuh. Saya mengungkapkan ini karena memang saya terkendala biaya sudah dua kali pihak keluarga minta ketemu dengan pemilik sekolah tapi tidak bisa," katanya.

Kredit

Bagikan