Contoh toleransi di Bandung, kelenteng ini berdampingan dengan masjid

user
Farah Fuadona 08 Februari 2016, 14:48 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Semangat toleransi yang tinggi ditunjukkan warga Gang Ruhana, Jalan Lengkong Kecil, Kota Bandung. Di dalam gang tersebut berdiri Vihara Girimetta yang bersebelahan dengan Mesjid Al Amanah. Tidak jarang pihak vihara atau kelenteng dengan pihak mesjid saling membantu jika menggelar acara.
 
Vihara Girimetta berada Gang Ruhana RT 2 RW 2 Kelurahan Paledang Kecamatan Lengkong. Dalam suasana tahun baru Imlek 2567, gapura bertuliskan “Masjid & Madrasah Al Amanah” itu dihias sederhana dengan umbul-umbur merah putih dan lampion merah.  
 
Lima puluh meter dari mulut gang terdapat Mesjid Al Amanah, sedangkan posisi Vihara Girimetta agak sedikit ke belakang meski posisinya tetap berdampingan. Gang tersebut tampak bersih, kiri kanan jalan dipasang pot-pot bunga. Dinding gang dihiasi mural-mural berwarna.

Gang menuju Vihara Giri Metta
© 2016 merdeka.com/Iman Herdiana


Suasana menyambut Imlek terasa saat memasuki gerbang Vihara Girimetta yang warna bangunannya didominasi warna merah. Beberapa lampion dipasang, lilin-lilin sudah dinyalakan bersamaan dengan dupa yang mengepul.
 
Pengurus Vihara Girimetta, Wong Tjeping yang akrab disapa Koh Ahoy, mengatakan vihara yang diurusnya sudah berdiri sejak 1946 oleh Wong Yun Lin. “Saya cucunya Wong Yun Lin. Vihara ini diurus secara turun-temirun, saya generasi yang ketujuh,” jelas Koh Ahoy, Senin (8/2).
 
Wong Yun Lin, kata dia, datang dari daratan Tiongkok, sempat singgah di Lampung, Sumatera, sebelum hijrah ke Ujung Berung, Bandung.  Di Bandung, Wong mendirikan Vihara Girimetta, berasal dari bahasa sansekerta ‘giri’ yang artinya gunung dan ‘metta’ yang artinya kasih sayang. Jadi vihara tersebut berarti kasih sayang yang menggunung.
 
Pendirian vihara awalnya untuk keluarga. Lalu berkembang menjadi untuk umum. Pada hari besar seperti Imlek, orang yang sembahyang di vihara banyak berasal dari luar kota seperti Jakarta, Sumedang, Surabaya. Sedangkan pada hari biasa melayani warga Bandung.
 
Dua tahun belakangan, di sisi vihara didirikan Masjid Al Amanah. Pihak vihara dengan senang hati menyambut pendirian masjid.
 
“Di sini menjadi contoh kerukunan umat beragama. Ada vihara, masjid, dan tidak jauh dari sini juga ada gereja. Mudah-mudahan semangat toleransi di sini menyebar ke daerah lain, bahkan ke seluruh Indonesia,” kata pria berambut gondrong tersebut.
 
Pria 62 tahun ini menuturkan, tidak jarang pihaknya menggelar acara bersama dengan pihak masjid. Contohnya, pihak masjid mendukung penyambutan Imlek dengan menyetujui gang yang menjadi akses utama menuju mesjid dan vihara dipasangi lampion.
 
Contoh lainnya, tahun ini Vihara Girimetta akan menjadi tuan rumah kirab budaya. Baik dari pihak masjid maupun gereja, mendukung pelaksanaan kirab memadukan budaya Tionghoa, Sunda dan nasional.


 
“Rapat kirab budaya juga rapatnya di mesjid. Jadi pengurus masjid ikut mendukung. Semua warga sini mendukung, saling ngerti, saling bantu,” katanya.
 
Koh Ahoy sendiri lahir dan besar di daerah tersebut. Dengan para pengurus mesjid sudah seperti saudara sendiri. Beberapa pengurus bahkan temannya di masa kecil.
 
“Kalau rukun kan enak kita saling kerjasama. Yang penting kita saling asih, asah, asuh seperti pepatah Sunda,” ujar pria yang sehari-hari memakai bahasa Sunda.
 
Menurutnya, dalam hidup yang penting selalu berbuat baik. Ia kembali mengutip pepatah Sunda, bahwa manah mah kudu sae ka sasaha (hati harus baik kepada siapa pun). “Kan semua tergantung pepelakan (tanaman) yang kita tanam. Kalau istilah Muslim mah sunatullah,” ujarnya.

Kredit

Bagikan