Tas dari kantong kresek bergaya kekinian hadir di pameran Slow Fashion

Oleh Farah Fuadona pada 17 Juli 2017, 13:40 WIB

Bandung.merdeka.com - Bila sekilas melihat tas berwarna hitam dan putih yang menggantung disebuah sudut ruang pamer NuArt Sculpture Park pasti dinilai sebagai tas wanita dengan model kekinian. Menggunakan kain kulit untuk beberapa sisinya, seolah tak ada yang aneh dengan karya Assyifa Jiniputri.

Namun mendekatlah pada karya mahasiswi Seni Kriya Institut Teknologi Bandung itu. Baca keterangan yang terpajang disamping karyanya, disitu pasti Anda langsung penasaran dan mencoba semakin mendekat bahkan mungkin meraba tas tersebut.

Tas karya Assyifa itu terbuat dari kantong kresek. Ya, tak disangka nyatanya kantong kresek yang kerap dianggap murah justru bisa menghasilkan produk berkualitas dan memiliki daya jual tinggi dengan sentuhan seni tingkat tinggi.

Assyifa menyebut karyanya sebagai re-plastic bag. Kantong kresek berwarna hitam dan putih itu ia rajut dengan apik hingga membuat kantong kresek yang kerap dipakai untuk membawa barang belanjaan itu disulap menjadi tas wanita dengan model elegan.

Penasaran melihat karya Assyifa? Datang saja ke pameran 'Slow Fashion Lab' yang merupakan hasil kerjasama antara Goethe-Institut Indonesien dengan NuArt Sculpture Park dan Institut Teknologi Bandung.
 
Pameran yang berlangsung hingga 29 Juli mendatang dikurasi oleh Aprina Murwanti. 'Slow Fashion Lab' dikembangkan sebagai bagian dari pameran "Fast Fashion – The Dark Side of Fashion" oleh the Museum of Arts and Crafts Hamburg yang dikurasi oleh Dr. Claudia Banz serta didukung penuh oleh Deutsche Bundesstiftung Umwelt dan Karin Stilke Stiftung.

Merupakan salah satu bagian dari proyek IKAT/eCUT, pameran ini memperkenalkan langkah nyata yang bergaya dan berkesinambungan dari label, seniman dan desainer lokal sebagai alternatif dari industri Fast Fashion.
 
"Pendekatan-pendekatan baru dari kolaborasi-kolaborasi yang dihadirkan dalam pameran ini mengemuka dengan memanfaatkan berbagai teknologi," ujar Nidiya Kusmaya, kurator dari karya yang dipamerkan mahasiswa Seni Kriya ITB, Senin (17/7).

Berbagai penelitian dan eksplorasi, kata Nidiya, dilakukan untuk mencari cara-cara alternatif yang mampu menggantikan atau mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya lama yang digunakan dalam industri fesyen.

Pada desainer, seniman, dan ilmuwan berkolaborasi untuk mendukung upaya-upaya pengurangan dampak buruk perepatan industri lewat perubahan konsep dasar desain, yang tidak hanya bersandar para prinsip pemenuhan kebutuhan, tetapi juga lebih mengajarkan nilai keberlangsungan dan pertumbuhan lintas generasi.

"Industri fesyen saat ini sedang mengalami pergeseran. Seiring dengan meningkatnya kesadaran kesalingterkaitan di antara faktor lingkungan global, prinsip-prinsip keberlanjutan, ekologi industri, eco-efisiensi, dan green chemistry yang terintegrasi ke dalam pengembangan bahan, produk, dan proses produksi. Ketiganya merupakan komponen terpenting dalam industri fesyen," jelasnya.

Tag Terkait