Perang tomat Lembang dalam bingkai film dokumenter

Poster perang tomat
Bandung.merdeka.com - Dalam empat tahun terakhir masyarakat Kampung Cikareumbi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, rutin menggelar perang tomat. Perang yang diwarnai tradisi hajat buruan dan ruatan ini menyedot perhatian masyarakat luas dan media massa.
Tradisi perang tomat tersebut diabadikan dalam film dokumenter judul Cerita Tomat Cerita Petani yang dibuat Yudha Maulana Nur Hidayat (director) dan Santi Ameriyani (Director of Photography).
Film dokumenter tersebut dipamerkan di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Printis Kemerdekaan, Bandung, hingga Jumat (30/1) mendatang.
Santi Ameriyani mengatakan, perang tomat merupakan bagian dari keragaman budaya Indonesia. Perang tomat lahir dari tradisi ritual ruatan yang sudah ada secara turun-temurun di Kampung Cikareumbi, Lembang.
Film dokumenter tersebut menampilkan seluruh proses rangkaian perang tomat. “Tujuan penulis dapat menyajikan visual yang baik dan dapat menyampaikan pesan dan diterima oleh masyarakat luas sehingga dapat bermanfaat untuk ilmu pengetahuan tentang budaya perang tomat,” tulis Santi, dalam pengantar pamerannya.
Tradisi perang tomat sebagai wujud syukur manusia yang telah diberi kehidupan khususnya bidang pertanian. Perang tomat sendiri sebagai puncak dari rangkaian ritual mulai hajat buruan, penumbalan atau ruatan dan hajat lembur yang rutin dilaksanakan setahun sekali tiap bulan Muharam.
Ide awal perang tomat berasal dari seorang budayawan Nanu Munajat atau akrab disapa Mas Nanu Muda alias Abah Nanu. Abah Nanu sering berkolaborasi dengan masyarakat Cikareumbi Mekar Budaya Grup.
Abah Nanu yang tertarik dengan ritual hajat buruan kemudian memberikan ide untuk melaksanakan perang tomat. Tomat yang dipakai perang adalah tomat busuk sebagai lambang membuang hal buruk dalam diri manusia.
Film dokumenter tersebut menjadi bagian dalam pameran Pameran Karya Tugas Akhir Prodi Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas 2015/2016 dengan tema United Nation.
Ada 11 mahasiswa yang menjadi pelaku pameran termasuk Santi dan Yudha. Ketua Prodi Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas, Harry Reinaldi, mengatakan pameran menampilkan keragaman budaya masyarakat Indonesia.
“Karya yang dipamerkan sangat beragam, mulai budaya urban seperti dokumentasi gravity, BMX, tradisi perang tomat di Cikareumbi Lembang,” terangnya, kepada Merdeka Bandung.
Ia menambahkan, salah satu narasumber dalam film perang tomat adalah fotografer Agus Bebeng. Sedangkan pemutaran film dokumenter dilakukan secara bergiliran.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak