Indonesia jadi negara nomor satu dengan resiko tsunami


Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)
Bandung.merdeka.com - Kerugian akibat bencana alam di Indonesia terus meningkat. Tanpa upaya pengurangan resiko bencana, anggaran negara akan habis jika terjadi bencana.
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dody Ruswandi, mengatakan dalam 10 tahun terakhir dampak kerugian akibat bencana di Indonesia meningkat.
Pada 2015, korban meninggal dunia akibat bencana sebanyak 22.773 jiwa. Selain itu, sebanyak 98,6 juta penduduk terdampaklangsung maupun tidak langsung. Total kerugian materil mencapai USD 66,5 miliar.
"Sembilan puluh persen bencana di Indonesia tersebut adalah bencanahidrometeorologi," kata Dody Ruswandi yang membuka Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin (23/5).
Bencana hidrometeorologi adalah bencana akibat cuaca, iklim dan perubahan iklim. Jenis bencananya antara lain banjir, longsor, puting beliung.
BNPB juga mencatat enam kebakaran hutan di Indonesia menimbulkan kerugian mencapai Rp 221 triliun. "Jadi selain menimbulkan korban jiwa, kerugian ekonominya sangat besar," katanya seraya menambahkan bencana tersebut sangat memengaruhi kemampuan anggaran negara.
Bencana lain yang harus diwaspadai adalah gempa bumi dan tsunami. Berdasarkan pengalaman, Tsunami Aceh pada 2004 menimbulkan korban jiwa lebih dari 200.000 dan kerugian materi yang sangat besar.
Tsunami Aceh melahirkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang bencana. Undang-undang ini mengamanatkan pembentukan BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) sebagai institusi bidang kebencanaan.
Indonesia sendiri merupakan negara yang resiko bencananya sangat tinggi. Semua potensi bencana alam ada di negeri ini, mulai dari gempa bumi, gunung api, sungai-sungai, tanah longsor dan lainnya.
BNPB mencatat, ada 322 kabupaten/kota di Indonesia yang masuk kelas resiko tinggi. "Kabupaten/kota sisanya sedang," katanya.
Bahkan di bidang tsunami, Indonesia peringkat pertama dari 266 negara dunia yang rawan tsunami. Rawan karena di sekitar pantai-pantai di Indonesia padat penduduk.
Untuk itu diperlukan sistem pengurangan resiko bencana. Kini pengurangan resiko bencana telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
"Jadi pengurangan bencana menjadi bagian pembangunan nasional. Dalam RPJMN ditargetkan pengurangan resiko bencana bisa mencapai 30 persen," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak