Hampir semua kabupaten dan kota di Indonesia rawan bencana


Ilustrasi bencana banjir di Bandung
Bandung.merdeka.com - Hampir semua kota dan kabupaten yang ada di Indonesia rawan bencana alam. Mulai dari gempa bumi, gunung api, tsunami, longsor, banjir dan lainnya. Perlu dukungan politik agar pengurangan resiko bencana menjadi bagian kebijakan pemerintah.
"Dari 500 kota/kabupaten, 60 persen rawan bencana. Sebagian besar rawan, hanya sedikit daerah yang tidak rawan," kata Wakil Ketua 1 Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Harkunti Rahayu di Bandung, dalam jumpa pers Pekan Ilmiah Tahunan ke-3 IABI di ITB, Kamis (19/5).
"Kita punya petanya, antara lain rawan tsunami, gunung api, gempa, banjir dan lain-lain," katanya.
Keberadaan IABI diharapkan makin meningkatkan pengetahuan masyarakat maupun pemerintah tentang pentingnya pengurangan resiko bencana.
Harkunti menjelaskan, IABI merupakan asosiasi yang terdiri dari individu-individu yang ahli tentang bencana. Di dalamnya ada pokja-pokja tsunami, gempa bumi, gunung api dan lain-lain.
Diharapkan IABI menjadi tempat konsultasi atau rujukan bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ke depan IABI bisa memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah terkait daerah-daerah rawan bencana.
"Tahun ini tantangannya bukan hanya memberi solusi, tapi kita harus memberi masukan," katanya.
Sekretaris Jenderal IABI, Lilik Kurniawan menambahkan IABI adalah organisasi yang dibentuk relawan-relawan kebencanaan dengan basis sains pada 2014.
IABI pernah mengkritisi pasangan calon presiden pada Pemilihan Presiden beberapa waktu lalu. Waku itu baik Capres Jokowi maupun Capres Prabowo tidak menyebutkan dalam visi misinya bahwa Indonesia rawan bencana.
"Rekomendasi kami apabila terpilih mereka harus memasukkan bencana dalam program pembangunan," kata Lilik.
Jika kebencanaan tidak masuk dalam program pembangunan, IABI khawatir kebencanaan tidak masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
"Padahal begitu terjadi bencana APBN bisa tersedot habis. Contohnya APBN 2007 (bencana tsunami Aceh) 16 persen dipakai untuk menangani bencana," kata Direktur Pengurangan Resiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana ini.
Maka untuk membahas pentingnya pengurangan resiko bencana, IABI akan menggelar Pekan Ilmiah Tahunan di Kampus ITB, Senin dan Selasa (23-24/5) mendatang.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak