Tak rencanakan kehamilan bisa lahirkan bayi transgender?

dr. Mulyanusa (kanan)
Bandung.merdeka.com - Orientasi seksual sudah terbentuk sejak proses awal kehamilan. Sejak proses pembentukan bayi dalam perut, orientasi seks ini sudah mulai terjadi pemisahan. Bayi laki-laki orientasi seksnya pada perempuan, begitu juga sebaliknya.
Menurut dr. Mulyanusa Amarullah Ritonga, dalam istilah medis proses itu disebut development of gonad.“Development of gonad mulai terjadi sejak usia kehamilan delapan minggu,” katanya, dalam temu ilmiah dengan tema “Quo Vadis LGB-T?” di Kampus FK Unpad, Bandung, Sabtu (19/3).
Teknisnya, pemisahan orientasi seks laki-laki dan perempuan terbentuk lewat komponen kromosom XY untuk laki-laki dan kromosom XX untuk perempuan. Namun ketika individu memiliki perbedaan karena faktor jumlah kromosom, maka akan terjadi ketidakjelasan alat kelamin (ambiguous genitalia) berupa interseksual dan transeksual.
Interseks adalah seseorang yang lahir dengan alat kelamin yang tidak sesuai dengan definisi perempuan atau laki-laki (hermaprodit). Sedangkan transeksual adalah orang yang mengalami ketidakcocokan seks biologis bawaannya dengan seks biologis yang diinginkannya (waria).
Namun menurut Mulyanusa, kasus tersebut sangat sedikit. Berdasarkan penelitian, 1 dari 2000 kelahiran bayi dalam kondisi interseks atau 98 persen bayi terpengaruh kelainan bawaan atau congenital adrenal hyperplasia.
Masalah tersebut bisa dideteksi dini dengan perencanaan kehamilan. Lewat cara ini, kehamilan dipantau secara medis. Jika ada indikasi ambiguous genitalia bisa cepat diatasi dengan tindakan medis yang tepat.
“Kelemahan di Indonesia banyak yang tidak merencanakan kehamilan. Tahu-tahu datang ke dokter dalam kondisi hamil, padahal sebelumnya melakukan KB,” tutur Mulyanusa.
Kendati demikian, kasus ambiguous genitalia kemungkinannya sangat kecil. Ia mengaku selama praktik tidak pernah menemukannya.
Ia menambahkan, perencanaan kehamilan penting untuk melakukan deteksi dini atau manajemen genital terhadap bayi baru lahir. Bayi dengan usia kurang dari 18 bulan akan lebih mudah dilakukan manajemen genital. Terapinya dengan hormon atau operasi ganti kelamin.
Berdasarkan pengalaman, kata dia, kebanyakan kasus ambigu genital diketahui saat usia remaja atau saat mau nikah. “Itu paling sering datang ke klinik pas nikah,” katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak