BPPT ajak mahasiswa ITB teliti data gempa laut

user
Farah Fuadona 11 Maret 2016, 09:58 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengajak pakar dan mahasiswa ITB meneliti data seismik  bawah laut sebagai bahan untuk meneliti kegempaan di laut Indonesia.
 
Peneliti BPPT Udrekh Hanif mengatakan, data yang ada di BPPT bersifat terbuka bagi peneliti maupun mahasiswa. “Silakan kalau ITB dan pasukannya mau mengolah data Ocean Bottom System (OBS), seismik yang high resolution, yang kerja sama dengan LIPI, silakan kalau mau, open, siapa saja bisa pakai,” kata Udrekh, dalam diskusi “Gempa Bumi Samudera Hindia” di Kampus ITB, Bandung, Kamis (10/3).
 
Ia menyebutkan, jumlah data seismik di BPPT sangat banyak, bisa dipakai untuk menambah sumber-sumber gempa di Indonesia. Selama ini BPPT menghadapi kesulitan mengolah data karena keterbatasan waktu.
 
Saat ini, untuk mengolah data tersebut BPPT sedang bekerja sama dengan Lembaha Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berpusat di Bandung.
 
“Sekarang di Bandung 50 persen data itu diolah di Geoteknologi LIPI. Sebab data kalau tidak diolah tidak akan bunyi,” katanya.
 
Di sisi lain, ia mengakui masih sedikitnya data dasar laut yang sudah diolah menjadi makalah ilmiah sebagai informasi sumber gempa. Menurutnya, itulah kelemahan yang ada di Indonesia.
 
Padahal di luar negeri, data seismik dasar laut banyak menghasilkan doktor. Contohnya saat gempa dan tsunami Aceh 2014, banyak sekali data dasar laut yang dibawa peneliti luar negeri.
 
“Sudah puluhan orang yang berhasil di Amerika Serikat menjadi doktor karena gempa Aceh, di kita tidak ada,” katanya.
 
Hal itu terjadi karena penelitian dasar laut memerlukan biaya yang sangat besar. Begitu juga sekolah untuk meneliti data seismik dasar laut.
 
Maka akhir tahun ini, BPPT bekerja sama dengan negara asing untuk melakukan ekspedisi seismogenesis. Dari Indonesia, ada dua orang yang ikut ekspedisi ini, yakni dari LIPI Marina Frederick dan Marpasran Hendrizan.
 
“Makanya 2016 ini kita ekpedisi. Sebenarnya dua orang itu tidak mencukupi, harusnya ada beberapa orang ramai-ramai sekolah data itu,” katanya.

Kredit

Bagikan