Kasus DBD di Bandung meningkat 5 orang meninggal dunia

Ilustrasi pasien DBD
Bandung.merdeka.com - Jumlah kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) di Kota Bandung mengalami peningkatan. Sejak awal 2016 hingga Februari ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mencatat ada 555 Kasus DBD, dimana lima orang diantaranya meninggal dunia. Jumlah ini meningkat dari bulan Januari sebelumnya yakni 300 kasus DBD, dimana satu orang diantaranya meninggal dunia.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Susatyo Triwolopo mengatakan peningkatan jumlah kasus DBD diketahui dari laporan dari setiap rumah sakit di Kota Bandung. Namun dirinya menyayangkan, lambatnya proses pelaporan dari rumah sakit ke dinas kesehatan.
"Kami kan sudah punya SOP-nya, enam jam setelah diagnosa, paling lambat enam jam sudah melaporkan ke dinas kesehatan. Tapi ini tak berjalan seperti yang diharapkan. Ada rumah sakit yang sudah beberapa hari baru melaporkan, sehingga penindakan di lapangan agak terlambat," ujar Susatyo saat dihubungi, Sabtu (13/2).
Dia menuturkan, bila sistem pelaporan data itu berjalan maksimal, pihak puskesmas bisa langsung menindaklanjuti laporan dari rumah sakit. Sehingga puskesmas bisa melakukan penanganan untuk menindaklanjuti temuan kasus DBD.
Susatyo mengungkapkan, dari lima minggu terakhir, proses otopsi verbal juga telah dilakukan terhadap beberapa pasien DBD. Hal itu dilakukan untuk mengetahui grade DBD dari masing-masing pasien.
"Grade satu DBD itu hanya mencakup demam dengue, gejalanya pasien mengalami demam dan ngilu pada persendian. Namun tak ditemukan pendarahan. Untuk grade dua, selain mengalami demam, gejala pendarahan, mimisan, dan bintik-bintik merah ditemukan dalam tubuh pasien. Sementara untuk grade tiga atau dengue shock syndrom (DSS), biasanya pasien langsung dilarikan ke ICU,"katanya .
Susatyo menjelaskan, dari 555 pasien DBD, yang meninggal dunia akibat penyakit itu dilaporkan mengalami grade dua sampai tiga. Untuk itu lanjut dia, proses diagnosa harus dilakukan secara baik, karena bila diagnosa di awal kurang baik dapat mengakibatkan resiko berlebih pada pasien.
Terkait sebaran wilayah endemik DBD, Susatyo mengaku belum bisa memaparkan lebih jauh. Namun dari pengamatannya sejauh ini, setidaknya ada 10 siswa sekolah di Antapani yang terkena penyakit tersebut.
"Khusus untuk lima korban meninggal dunia, penderitanya tercatat dari berbagai kalangan usia. Mulai dari usia dua bulan hingga dewasa.
Susatyo mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga lingkungannya dengan membersihkan tempat-tempat yang dapat menampung genangan air. Pasalnya bisa dipastikan genangan-genangan air tersebut menjadi sarang nyamuk untuk berkembang biak.
"Jadi perlu ada kesadaran masyarakat untuk mencegah mata rantai penyakit ini, terutama dalam memelihara kondisi lingkungannya," pungkasnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak