Mahasiswa Unpas disidang di Gedung Indonesia Menggugat Bandung

Sidang pameran Mahasiswa Unpas
Bandung.merdeka.com - Gedung Indonesia Menggugat Bandung di masa kolonial Belanda menjadi gedung pengadilan. Kini, gedung di Jalan Perintis Kemerdekaan itu menjadi tempat sidang akhir mahasiwa program studi Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan (Unpas) Bandung.
Ada 11 mahasiswa yang menjalani sidang tugas akhir kuliah mereka di gedung bersejarah tersebut. Tugas akhir itu berupa pameran karya fotografi dan film dokumenter.
Ketua Prodi Fotografi dan Film Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas, Harry Reinaldi, menjelaskan ada tiga tahapan penilaian dalam sidang tugas akhir tersebut. Pertama, peserta melalui penilaian konsep karya mereka. Sebab sebelumnya, mahasiswa peserta tugas akhir harus melakukan riset karya sebelum memvisualisasikannya dalam bentuk karya foto atau video.
Setelah itu, peserta memamerkan karya mereka. Karya mereka dipajang di dinding pameran Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Terakhir, masing-masing mahasiswa mempresentasikan karya mereka di hadapan dosen pembimbing. Presentasi mahasiswa ini suasananya seperti di persidangan.
Untuk film dokumenter, juga diputar di GIM untuk disaksikan pengunjung pameran. Harry Reinaldi menyebutkan, sidang tugas akhir sekaligus pameran karya itu sudah dimulai sejak Senin (24/1) dan berakhir Jumat (29/1).
Total karya dalam para mahasiswa tersebut sekitar 77 foto dengan beragam konten, dan tiga film dokumenter. “Sidang akhir berupa pameran tersebut bobotnya setara dengan skripsi,” jelas Harry.
Mengenai konten, temanya sangat beragam mulai dari seni tradisional, kekayaan alam, hingga budaya urban. Tema-tema tersebut terkait dengan latar belakang mahasiswa.
“Mahasiswa tugas akhir ini cukup majemuk, ada Sunda, Minang, dan Lombok. Mereka menampilkan karya yang tradisional dan modern. Misalnya tradisi perang tomat di Lembang hingga seni gravity. Gravity sendiri budaya urban yang sudah berumur panjang di kita,” jelasnya.
Dengan kata lain, kata dia, pameran tersebut menunjukkan kebhinekaan Indonesia. “Kita harap pengunjung yang datang ke mari melihat kekayaan budaya kita, khususnya Jawa Barat. Karya mahasiswa ini mewakili kekayaan budaya tradisional dan modern, itu dinamika kekayaan yang ada di Indonesia,” terangnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak