Buat yang doyan minum air hujan, kenali dampaknya buat kesehatan


Hujan
Bandung.merdeka.com - Sekarang sedang musim hujan. Hampir seluruh wilayah di Indonesia mengalami hujan, baik dengan intensitas ringan maupun tinggi. Banyak orang beranggapan air hujan layak dikonsumsi, dimasak lalu dibuat minuman. Namun ada juga yang menilai air hujan tidak layak karena tidak sehat.
Nah, untuk mengetahui apakah air hujan layak dikonsumsi atau tidak, ada baiknya perhatikan peringatan organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) ini.
Sebenarnya air hujan yang turun dari langit relatif bebas dari kotoran, kecuali saat ditampung dan disimpan di tempat buruk oleh rumah tangga. Air hujan menjadi tidak sehat saat bercampur kotoran yang dihempas angin, bercampur daun, kotoran burung dan hewan, serangga, sampah yang mengkontaminasi air hujan di daerah resapan.
Kondisi semacam itu bisa menyebabkan air hujan beresiko buruk buat kesehatan saat dikonsumsi. Namun demikian, risiko dari bahaya tersebut dapat diminimalkan dengan desain penampungan yang bagus.
WHO menyebut, resiko buruk air hujan diantaranya terkontaminasi mikroba, bakteri E. coli yang bisa menyebabkan sakit perut dan mencret. Bakteri ini sangat umum berada di air hujan, terutama dalam sampel yang dikumpulkan oleh WHO.
Kontaminasi mikroba, pada umumnya lebih tinggi saat hujan pertama turun, lalu tingkat kontaminasinya terus menurun pada hujan berikutnya dan seterusnya.
Berikutnya patogen (parasit); seperti Cryptosporidium, Giardia, Campylobacter, Vibrio, Salmonella, Shigella dan Pseudomonas juga telah terdeteksi dalam air hujan. Namun, terjadinya patogen umumnya lebih rendah dalam air hujan daripada di permukaan air yang tidak terlindungi.
Bagaimana dengan kandungan air hujan? Air hujan sedikit asam dan sangat rendah mineral. Kendati demikian, dalam kebanyakan kasus, konsentrasi bahan kimia di air hujan berada dalam batas yang dapat diterima. Namun kadang-kadang juga banyak laporan ada kadar seng dan timah di air hujan setelah mengguyur atap logam seng dan penyimpanan tangki air atau akibat polusi udara.
Air hujan memiliki kandungan sedikit mineral, kalsium, magnesium, besi dan fluoride, dalam konsentrasi yang tepat, sehingga dianggap sangat penting bagi kesehatan. Meskipun demikian, ada baiknya dipertimbangkan lebih dahulu sebelum meminum air hujan.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak