PPP Humphrey Djemat Nilai Jokowi Tak Siap Sampaikan Argumentasi Di Debat

PPP Humphrey Djemat
Bandung.merdeka.com - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) versi Muktamar Jakarta, Humphrey Djemat mengkritik jalannya debat capres perdana di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1). Menurut dia, debat bertema hukum, HAM, terorisme dan korupsi harusnya Joko Widodo (Jokowi) selaku petahana untuk menyampaikan keberhasilannya selama ini.
Namun, Jokowi justru lebih banyak menghadirkan konsep serta argumen-argumen normatif yang bisa dengan mudah dipatahkan oleh pasangan Prabowo-Sandi.
"Misalkan, soal pengakuan Jokowi yang mengangkat sembilan menteri perempuan di kabinetnya sebagai sebuah keberhasilan atas keterwakilan perempuan," ujar Humphrey di, Kamis (17/1).
Humphrey menilai, karena Jokowi menyampaikan konsep normatif maka adanya penempatan sembilan menteri perempuan langsung di skak Prabowo dengan mengatakan bahwa kualitas dan keperpihakan kepada bangsa serta rakyat kecil lebih penting ketimbang hanya melihat keterwakilan perempuan secara jumlah dan orang per orang.
"Argumen dan jawaban Pak Jokowi normatif sekali. Padahal beliau sudah menjabat presiden selama empat tahun lebih. Sebenarnya cukup kaya dengan pengalaman. Tapi jawabannya malah seperti orang yang mau mulai jadi presiden," kata dia.
Ditanya soal cawapres Ma'ruf Amin yang irit bicara pada debat pertama, Humphrey enggan banyak berkomentar. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan Ma'ruf Amin sebagai wakil dari Jokowi. Ibarat main bola, posisi Ma'ruf Amin tidak bisa memainkan bola. Padahal bola sudah ada dihadapannya.
"Sebenarnya banyak kesempatan yang diberikan Pak Jokowi (kepada Ma'ruf Amin). Ibarat bola sudah diumpan pak sampai di depan kotak penalti, tapi Pak Ma'ruf tidak bisa nendang dan bikin gol," kata dia.
Ia juga menyoroti jawaban-jawaban Jokowi saat menanggapi pertanyaan Prabowo-Sandi yang sering lari dari masalah dan justru menyerang balik secara subjektif lawan debatnya.
Misalnya saat disinggung soal impor pangan yang menggila di masa kepemimpinannya. Padahal, janji Jokowi pada saat kampanye dan debat pada pilpres 2014 adalah untuk menekan impor.
Kemudian, terkait ketidakadilan dalam penegakan hukum yang dilontarkan Prabowo yang dicontohkan dengan dukungan sejumlah pimpinan daerah yang aman ketika mendukung Jokowi-Amin, sedangkan seorang kepala desa di Jatim dipenjara gara-gara mendukung Prabowo-Sandi.
Jokowi justru menyebut pertanyaan Prabowo itu sebagai 'tuduhan'. "Ini membuktikan pasangan nomor 01 tidak siap dalam kekuatan menyampaikan argumentasi," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak