Wagub Jabar imbau masyarakat harus waspada marak kasus penganiayaan pada ustaz

user
Endang Saputra 07 Februari 2018, 13:00 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar meyakini bahwa ada motif tertentu di balik maraknya penyerangan terhadap sejumlah ustaz di Jawa Barat oleh pelaku yang mengklaim tidak waras.

"Ini modus operandi untuk seolah-oleh orang tidak sehat, orang gila, karena belum tentu orang gila," katanya,Selasa (6/2).

Deddy lantas membandingkan dengan fenomena yang terjadi beberapa tahun silam. "Seperti Kolor Ijo, ada beberapa fitnah seperti santet," kata bakal calon Gubernur Jabar ini.

Dengan demikian,politisi partai Demokrat ini mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada, meski yang menjadi korban dalam beberapa kasus adalah ulama.

"Di mana-mana ada ulama hidup di antara kita, di masjid, di pesantren. Ini masyarakat juga harus berjaga-jaga kewaspadaan," katanya.

Selain itu, Deddy juga menilai, maraknya penyerangan tokoh ulama di Bumi Pasundan tersebut oleh orang gila tidak ada kaitan dengan wacana Penjabat Gubernur (Pj) Gubernur Jabar dari Polri. Alasannya, Jabar kondusif dan memiliki Pangdam III/Siliwangi dan Kapolda.

"Ini ada Kapolda, ada Pangdam. Tidak ada hubungannya dengan Plt Polri, tidak ada hubungannya," katanya.

Diketahui,terjadi dua kasus penganiayaan. Yang pertama dialami pimpinan pondok pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, Umar Basri. Akibat peristiwa itu, Umar mengalami luka di bagian kepala dan harus dirawat di rumah sakit. Beruntung nyawanya selamat.

Lalu, peristiwa kedua dialami Komando Brigade PP Persis, Prawoto. Tak seperti Umar Basri, Prawoto meninggal dunia setelah sempat koma. Kesamaan dari dua kasus itu adalah pelakunya diduga mengalami gangguan jiwa.

Pelaku penganiayaan KH Umar Basyri, diduga mengidap gangguan mental. Pelaku berinisial A, diduga mengalami gangguan mental setelah kepolisian melakukan sejumlah pemeriksaan.

Kabidhumas Polda Jabar AKBP Hari Suprapto mengatakan, pemeriksaan itu pertama mengenai riwayat pelaku. Menurut Hari, dari hasil pemeriksaan dilakukan dokter dari kepolisian dan ahli kesehatan tempat pelaku sebelumnya dirawat menunjukkan ketidakstabilan mental.

"Untuk aspek itu yang bersangkutan memang kecenderungan ketidakstabilan mental," kata Hari saat dihubungi merdeka.com, Selasa (30/1).

Menurut Hari, pelaku sebelumnya pernah menjalani rawat jalan selama kurang 30 hari di Rumah Sakit Jiwa Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kemudian secara penampilan dan perilaku pelaku juga menunjukkan orang mengalami ketidakstabilan mental.

Kredit

Bagikan