Panglima TNI yakin mahasiswa bisa jadi pemersatu saat negara terancam


Panglima TNI Gatot Nurmantyo
Bandung.merdeka.com - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo buka-bukaan soal potensi ancaman di Indonesia di hadapan mahasiswa. Dia menegaskan, ancaman pemecahan NKRI itu nyata. Oleh karena itu jenderal TNI bintang empat itu mengajak mahasiswa bisa menjadi alat pemersatu bangsa bagi siapapun yang ingin memecah belah.
Jenderal Gatot menjadi keynote speech pada Seminar Nasional Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk menjaga keutuhan NKRI, di Graha Sanusi Unpad, Bandung, Rabu (23/11).
"Cegah hasutan, provokasi, adu domba. Saya yakin mahasiswa itu adalah bagian dari pemersatu bangsa. Reformasi hadir karena mahasiswa, sekarang ada ancaman terhadap negara, mahasiswa juga jadi pemersatu bangsa," kata Gatot yang disambut riuh ratusan mahasiswa yang hadir.
Indonesia yang masuk sebagai negara ekuator merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Sebagai negara kepulauan terbesar, pantai terpanjang di dunia kedua dengan 95 juta kilometer ditambah luas 5,8 juta, Indonesia negara cukup menjanjikan.
"Indonesia itu menjanjikan. Bahkan Indonesia menjadi negara kepercayaan konsumen tertinggi nomor 3 di dunia," ungkapnya.
Potensi ancaman itu di antaranya hadir ada di wilayah Laut China Selatan dan perbatasan wilayah Australia. Wilayah Darwin, Australia hanya berjarak 90 kilometer dari pulau terluar Indonesia yakni Masela.
"Blok masela punya kandungan gas dan minyak di bawah permukaan air laut. Segi jarak itu tidak terlalu jauh dengan Australia," ujarnya.
Selain ancaman tadi, Indonesia sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa juga menghadapi ancaman nyata mulai dari narkotika, terorisme, Laut Cina Selatan, dan Five Power Defence Arrangements (FPDA).
Kerja sama pertahanan Five Power Defence Arrangements (PFDA) yang digagas oleh negara-negara persemakmuran Inggris, yakni Australia, Singapura, Malaysia dan New Zealand ini patut diwaspadai. "Ini cukup besar kekuatannya," ujarnya. Negara tersebut juga secara geografis tidak jauh dari Indonesia. "Ini yang diwaspadai kita di sisi barat."
Adapun latar belakang konflik negara saat ini lebih karena energi. "Sekarang semua latar belakang atau sekitar 70 persen energi. ISIS saja latar belakang energi. Bukan bicara lagi ideolgi atau agama," ujarnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak