Pola makan ini bagus untuk menghindari penyakit jantung koroner


Ilustrasi sakit jantung
Bandung.merdeka.com - Di samping memiliki protein yang bermanfaat bagi tubuh, daging juga memiliki kandungan lemak yang tidak baik bagi kesehatan. Lemak akibat mengkonsumsi daging beresiko memicu sejumlah penyakit seperti kolestrol.
Kolestrol sendiri merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung koroner, yakni penyumbatan pada pembuluh darah di jantung yang bisa menimbulkan kematian mendadak.
Spesialis jantung Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Toni Mustahsani Aprami, mengatakan sebenarnya konsumsi daging tidak dilarang, yang penting tidak berlebihan.
Pada prinsipnya, kata dia, segala sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk, begitu juga makan daging. Di sisi lain, bagi orang Indonesia daging sebenarnya bukan menu utama. Konsumsi daging biasanya dilakukan pada momen tertentu atau tidak rutin.
Berbeda dengan di luar negeri, misalnya orang barat mengkonsumsi protein hewaninya bisa mencapai 200 gram per hari. Sedangkan orang Indonesia konsumsi dagingnya belum tentu 100 gram tiap harinya.
"Bagi kita yang penting disesuaikan jumlah kalori yang dibutuhkannya, harus setara dengan kebutuhan," katanya, kepada Merdeka Bandung.
Salah satu pola makan yang baik adalah makanan tradisional. Misalnya tradisi Sunda, menu makanan sehari-harinya adalah sayur atau lalapan atau makanan yang banyak mengandung serat.
Pola makan tradisional itu, kata dia, lebih menyehatkan terutama bagi orang dewasa. "Jadi harus lebih banyak pola makan yang berserat diperbanyak, yang banyak mengandung lemaknya dikurangi," katanya.
Pola makan juga harus disesuaikan dengan usia. Pola makan anak akan berbeda dengan pola makan orang dewasa atau orang tua. Dulu, pola anak-anak adalah empat sehat lima sempurna. Pola ini tidak bisa diterapka pada orang dewasa.
Jika dimodelkan piramida, piramida paling bawah untuk orang dewasa adalah sayuran atau kacang-kacangan. Makin ke atas atau makin kecil porsinya baru makanan yang mengandung protein seperti susu dan daging.
Ia menjelaskan, masa kecil adalah masa tumbuh-kembang yang memerlukan asupan protein lewat susu atau daging. Sedangkan masa usia dewasa makan daging atau susu justru harus mulai dikurangi.
"Kalau orangnya sudah 40 tahun atau sudah tua kan perkembangan pertumbuhannya sudah tidak bertambah lagi. Usia ini tinggal memelihara kondisi, makanan yang merusak pembuluh darah itu dikurangi," paparnya.
Bagi orang Indonesia, kata dia, yang perlu mendapat perhatian serius juga masalah kebiasaan merokok dan kurangnya olahraga. Ia menjelaskan, kebiasaan merokok dan minimnya olahraga merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung koroner.
"Jangan tidak makan daging tapi rokoknya tinggi, ya jadinya sama saja," ujarnya menandaskan.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak