Bosscha, tokoh Belanda yang menjadi 'cikal bakal' Bandung baheula

Oleh Farah Fuadona pada 01 Maret 2016, 16:33 WIB

Bandung.merdeka.com - Observatorium Bosscha yang berdiri di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi ikon sains bagi Indonesia. Keberadaan observatorium yang sudah menjadi cagar budaya ini tidak lepas dari jasa Karel Albert Rudolf Bosscha yang namanya diabadikan sebagai nama observatorium.
 
Karel Albert Rudolf Bosscha adalah pengusaha kelahiran Den Haag, Belanda (1865-1928). Pada 1923 ia dan rekannya membangun observatorium tersebut. Kini fungsi observatorium masih bisa dirasakan, terutama saat ada momen penting seperti gerhana matahari total 9 Maret nanti.
 
Saat mendirikan observatorium, Bosscha memasang teleskop Zeiss, yakni teleskop raksasa yang tercanggih dimasanya. Teleskop yang dinaungi bangunan berkubah ini didatangkan langsung dari perusahaan optik ternama Jerman, Carl Zeiss Zena.
 
Untuk membangun pusat astronomi, Bosscha membentuk Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Di mana Bosscha menjadi penyandang dana utamanya.
 
Tokoh lain yang tergabung dalam NISV antara lain pengusaha dari Italia. Yang membuka perusahaan susu di Baroe Adjak, Lembang, yaitu Ursone bersaudara. Ursone bersaudara menyumbangkan sebidang tanahnya untuk pembangunan observatorium.
 
Dalam buku Wajah Bandoeng Tempoe Doeleo yang ditulis Haryoto Kunto (PT Granesia, 1985). Disebutkan Bosscha sebagai preangerplanter, yakni orang yang turut membangun Bandung. Dengan kata lain, jasa Bosscha tidak hanya membangun observatorium saja.
 
Bosscha merupakan pengusaha teh yang menjadi Pemilik Onderneming Teh Malabar di Pangalengan. Ia juga memiliki minat sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Berbeda dengan saudara sebangsanya yang menjajah nusantara, Bosscha diakui kedermawanannya.
 
“(Bosscha) sebagai Warga Teladan Bandung tempo dulu,” tulis Haryoto.
 
Selain membangun observatorium, tulis Haryoto, Bosscha bersama keluarga Kerkhoven. Dikenal oleh warga kota Bandung sebagai donator berdirinya Techniche Hoogeschool yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Sekaligus menjadi perguruan tinggi teknik tertua di Indonesia.
 
“Peneropongan Bintang di Lembang merupakan saksi abadi yang menunjukkan betapa besar sumbangan mereka terhadap pengembangan ilmu pengetahuan,” tulis Haryoto.
 
Perjalanan sejarah kemudian menetapkan Observatorium Bosscha sebagai lembaga penelitian dan pendidikan di bawah ITB hingga kini. Hasil-hasil penelitian di Observatorium Bosscha juga diakui dunia, khususnya bidang astronomi.

Tag Terkait