Usai lebaran, inflasi Jabar menurun tajam

user
Muhammad Hasits 02 Agustus 2016, 11:47 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, saat lebaran usai inflasi Jawa Barat kerap mengalami penurunan. Bedanya, tahun ini penurunan inflasi dinilai cukup signifikan.

Kepala Deputi Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Soekowardojo menyatakan, pada bulan Juli 2016, Jawa Barat tercatat mengalami inflasi sebesar 0,47% (mtm) atau 2,89% (yoy). Bila dibandingkan dengan tahun lalu, angka inflasi tersebut lebih rendah. Inflasi Jawa Barat bulan Juni 2016 sebesar 0,72% (mtm) atau 3,22% (yoy), meningkat dibanding inflasi bulan sebelumnya 0,25% (mtm) atau 3,01% (yoy).

"Penurunan tekanan inflasi ini secara umum terjadi seiring dengan berlalunya masa Lebaran. Secara historis, realisasi inflasi pada bulan di mana terjadi Lebaran ini merupakan yang terendah sejak tahun 2011," ujar Soekowardojo kepada Merdeka Bandung, Senin (1/8).

Berdasarkan data tahun 2011-2015 (exclude 2013), rata-rata inflasi bulanan di bulan Ramadan adalah 0,62% sedangkan di bulan periode Lebaran adalah 0,80%. "Berdasarkan disagregasinya, andil inflasi bulanan terbesar diberikan oleh kelompok administered prices yang mencapai 0,28% atau mengalami inflasi sebesar 1,42% (mtm)," jelasnya.

Selanjutnya diikuti oleh kelompok volatile food yang memberikan andil sebesar 0,11% atauinflasi sebesar 0,57% (mtm) dan kelompok core yang memberikan andil sebesar 0,09% atau inflasi sebesar 0,14% (mtm).

Tekanan inflasi bulanan kelompok volatile food mengalami penurunan cukup dalam yakni dari 3,08% pada Juni menjadi 0,57% pada bulan Juli, di mana hal ini terjadi seiring dengan berlalunya momentum Lebaran.

Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar adalah dari bawang merah (0,07%), kentang (0,06%), beras (0.05%), daging ayam ras (0,04%), cabai rawit (0,02%), dan daging sapi (1,70%) serta komoditas berasal dari kelompok buah-buahan seperti apel, pir, dan pisang serta kelompok sayur-sayuran seperti petai dan kacang tanah.

Sebagai dampak La Nina, curah hujan pada musim kemarau kali ini cenderung di atas normal sehingga digolongkan menjadi kemarau basah. Sebagai akibatnya, sejumlah tanaman khususnya hortikultura seperti bawang merah dan cabai menjadi rentan busuk dan terkana penyakit.

Sebagai contoh, produksi bawang merah di Brebes yang merupakan sentra produksi pada masa panen Juli 2016 ini menurun 50% akibat terendam banjir. Berlanjutnya kenaikan harga komoditas kentang disebabkan oleh semakin terbatasnya pasokan.

Hal ini salah satunya disebabkan karena petani di sejumlah sentra memilih melakukan panen dini menjelang bulan Ramadan lalu. Adapun pada komoditas beras, tengah berlangsungnya masa tanam menjadi penyebab kenaikan harga walaupun hal ini umum terjadi secara nasional.

Curah hujan yang cukup tinggi pada musim kemarau dan musim tanam kali ini diperkirakan dapat meningkatkan produksi beras pada musim panen berikutnya. Di tengah gejolak harga sejumlah komoditas utama, terdapat beberapa komoditas pangan utama lainnya mengalami penurunan harga antara lain tomat sayur, telur ayam ras, jengkol, ketimun, wortel, jagung manis, dan beberapa jenis komoditas sayuran lainnya.

Penurunan harga komoditas telur ayam ras yang selama dua bulan sebelumnya mencatatkan inflasi tinggi salah satunya disebabkan oleh menurunnya permintaan masyarakat khususnya untuk pembuatan kue yang umumnya dilakukan sebelum Lebaran.

Kredit

Bagikan