Priyanto Sunarto, seniman yang menjungkirbalikan peta Indonesia

user
Farah Fuadona 31 Juli 2016, 12:06 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Peta Bumi Indonesia Baru menjadi salah satu karya seniman yang juga pendidik Priyanto Sunarto (1947-2014) yang memiliki semangat terobosan. Peta Bumi Indonesia Baru dimuat dalam buku katalog pameran berjudul Pri S: Sepilihan Karya dan Arsip di Selasar Sunaryo Art Space, Jalan Bukit Pakar Timur No 100 Bandung, 22 Juli-14 Agustus 2016. Peta ini dibuat Priyanto pada 1977 dengan teknik cetak saring.

Sepintas peta tersebut berupa kepulauan Indonesia dari sabang Merauke. Tetapi jika diamati lebih lanjut, ternyata tata letak masing-masing pulau berbeda dengan aslinya.

Misalnya Pulau Papua yang seharusnya ada di wilayah paling timur, pada peta Peta Bumi Indonesia Baru justru berada di wilayah paling barat dengan posisi jungkir balik.

Pulau paling timur justru Kalimantan, diikuti pulau Jawa yang menempati posisi kepulauan Halmahera. Posisi pulau Jawa menjadi vertikal, sementara pada peta aslinya pulau Jawa horizontal.

Pulau Sulawesi menempati posisi pulau Jawa. Sedangkan posisi pulau Sulawesi ditempati Kalimantan. Lalu NTB, NTT, dan Bali berada di perbatasan dengan Malaysia.

Menurut seniman Sunaryo, Priyanto Sunarto adalah salah satu seniman yang terlibat gerakan seni rupa baru bersama AD Pirous, Jim Supangkat, T Sutanto, dan lainnya.

Sunaryo sendiri mulai menjalin kerja sama di bidang seni rupa dengan Priyanto Sunarto pada 1973. “Saya biasa memanggilnya dengan nama Pri,” kata Sunaryo yang juga pendiri Selasar Sunaryo Art Space.

Tahun-tahun itu, sambung seniman yang akrab disapa Naryo, pemerintah selalu menggembar-gemborkan kepribadian nasional termasuk di bidang kesenian.

Peta karya seniman Priyanto Sunarto
© 2016 merdeka.com/Iman Herdiana

Hanya saja kampanye pemerintah bertolak belakang dengan realitas di kampus. “Di sekolah-sekolah justru sangat kebarat-baratan,” katanya.

Lalu sejumlah dosen ITB yang gelisah berkumpul dan berdiskusi menyikapi wacana karya yang harus berpijak di bumi sendiri. Di perkumpulan itu ada Priyanto Sunarto.

Hasil diskusi itu, sejumlah seniman, antara lain AD Pirous, mengolah seni kaligrafi Aceh, T Sutanto mengolah legenda raja-raja di Indonesia, dan Jim Supangkat membuat seni rupa baru. “Priyanto termasuk terlibat dalam gerakan seni rupa baru,” katanya.

Saat itulah Priyanto membuat peta Indonesia yang dijungkirbalikan. Ide tersebut sebagai satir bagi pemerintah bahwa kepribadian bukanlah terirorial.

“Sementara pemerintah waktu itu kan memahami kepribadian nasional hanya sebagai teritorial,” katanya.

Jika kepribadian berdasarkan teritorial, yang manakah kepribadian Indonesia itu, apakah yang Jawa, yang Sumatera, Papua dan seterusnya.

Kredit

Bagikan