Peringati perayaan tubuh 2016, seniman Bandung ritual di kilometer nol


Aksi perayaan tubuh
Bandung.merdeka.com - Tepat di tugu Kilometer Nol, para seniman muda Bandung yang tergabung dalam Awak Inisiatif Arts Movement menggelar aksi peringatan 'Perayaan Tubuh', Minggu (27/3) malam.
Dibuka dengan semacam ritual membakar dupa dan lilin di samping tugu. Seorang seniman dengan kostum hitam-hitam bersila mengenakan topeng. Gelas-gelas dan mangkuk logam dihamparkan dan mulai ditabuh.
Seniman perempuan yang mengenakan makeup putih berdiri mengusung bunga-bunga kertas, seniman lainnya menggelar aksi pantomim dan tari topeng. Sesekali, seorang penari topeng naik ke atas tugu Kilometer Nol sambil mengacungkan dupa.
Aksi itu cukup menarik perhatian pengguna jalan yang sedang sibuk-sibuknya. Kendaraan yang melintas tampak memelankan lajunya begitu melewati kilometer nol. Jika jalan sedang sepi karena lampu merah, seniman melakukan tarian sampai di tengah jalan.
Salah satu seniman penggagas Awak Inisiatif Arts Movement, Wanggi Hoediyatno mengatakan, aksi Perayaan Tubuh sebagai aksi damai terkait Perayaan Hari Tubuh Internasional (March To Move).
Kali Awak Inisiatif Arts Movement mengusung tema 'Napak Nafas' dengan melakukan serangkaian aksi di sejumlah titik bersejarah di Kota Bandung, antara lain Kilometer Nol, seberang Hotel Savoy Homann, tugu Asia Afrika dan eks Palaguna.
Ada 14 seniman yang mengikuti Awak Inisiatif Arts Movement. Mereka berasal dari berbagai komunitas seniman, mahasiswa dan dosen Universitas Padjdjaran (Unpad). Masing-masing seniman menampilkan gerak tubuh yang beragam, menari, berpantomim, dan performance art lainnya.
Lewat aksi itu diharapkan menjadi ruang titik temu antara bahasa seni dengan medium tubuh yang bebas bergerak bersama dan publik.
Aksi ini mengkritisi kebijakan pemerintah dalam membangun kota yang menggunakan cara-cara represif, contohnya menghancurkan bangunan bersejarah.
Aksi dilakukan di ruang-ruang publik untuk mengajak masyarakat agar menciptakan karya, memanfaatkan ruang publik sebagai ruang bersama yang wajib disediakan pemerintah.
"Semoga perayaan tubuh ini akan terus ada dan bisa memiliki ruang-ruang publik untuk menciptakan gagasan bersama," kata Wanggi.
Aksi Napak Napas tersebut sebagai simbol perayaan atas perjalanan napas yang berhembus dari masa ke masa, mempertemukan tubuh manusia dan tubuh sejarah lewat bangunan tua (heritage).
"Kami seperti bergerak menapaki ruh peradaban masa lalu menuju ruang komunal kekinian, bergumul pada aneka tubuh saling bersetubuh pada sejarahnya," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak