Sambangi ITB, Menkominfo targetkan 1000 teknopreneur


Menkominfo Rudiantara
Bandung.merdeka.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengatakan pemerintah menargetkan menumbuhkan bisnis digital dengan mencetak 1.000 teknopreneur hingga tahun 2020.
Para teknopreneur tersebut diambil dari kampus-kampus di Indonesia, salah satunya Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain ITB, ada delapan kampus lain dilibatkan dalam proyek yang ditaksir bisa menghasilkan USD 130 miliar pada 2020.
Rudiantara mengatakan, memang teknopreneur tidak harus mahasiswa atau berasal dari perguruan tinggi. Namun berdasarkan pengalaman termasuk di negara maju, bahwa teknopreneur tumbuhnya di perguruan tinggi.
Menurut dia, saat ini ada delapan kampus di Indonesia akan menyiapkan teknopreneur untuk ikut program 1.000 teknopreneur yang ditargetkan pemerintah. "Tidak hanya ITB, ada juga IPB, Guna Dharma, STMIK yang semuanya delapan perguruan tinggi," katanya di ITB, Jumat (8/1).
Ia menambahkan, kampus yang diajak kerja sama di antaranya dari luar Jawa juga. Khusus dengan ITB, Kominfo bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB.
Masing-masing kampus, kata dia, akan menggeluti bidang yang berbeda dalam bisnis digital tersebut, sehingga dihasilkan starup-starup yang beragam.
"Perguruan tinggi memegang peranan penting dalam pengembangan teknopreneur. Bahkan paling penting dibandingkan elemen lain, karena kalau elemen lain biasanya sudah jadi bisnis," terangnya.
Ia menjelaskan, target 1.000 teknopreneur 2020 berdasarkan perhitungan bahwa bisnis digital ini berpotensi menghasilkan USD 130 miliar. Syaratnya, Indonesia harus mampu menumbuhkan pengusaha-pengusaha yang bergelut di bidang teknologi digital atau starup.
"Setelah dihitung-hitung ternyata kita harus memiliki 200 teknopreneur setiap tahun atau 1.000 sampi 2020," katanya.
Untuk menghasilkan 200 teknopreneur, kata dia, prosesnya sangat panjang, harus ada pendidikan dan pelatihan yang tersetruktur dan sistematis. Dengan kata lain, bisnis starup ini tidak cukup hanya sekadar hobi.
"Memang dari hobi kadang ada yang berhasil. Tapi (perlu diketahui) bagaimana dari sisi legal, mematenkan, melakukan kajian riset pasar, dan lain-lain," katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak