Sambangi ITB, Menkominfo targetkan 1000 teknopreneur

user
Mohammad Taufik 08 Januari 2016, 15:40 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengatakan pemerintah menargetkan menumbuhkan bisnis digital dengan mencetak 1.000 teknopreneur hingga tahun 2020.

Para teknopreneur tersebut diambil dari kampus-kampus di Indonesia, salah satunya Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain ITB, ada delapan kampus lain dilibatkan dalam proyek yang ditaksir bisa menghasilkan USD 130 miliar pada 2020.

Rudiantara mengatakan, memang teknopreneur tidak harus mahasiswa atau berasal dari perguruan tinggi. Namun berdasarkan pengalaman termasuk di negara maju, bahwa teknopreneur tumbuhnya di perguruan tinggi.

Menurut dia, saat ini ada delapan kampus di Indonesia akan menyiapkan teknopreneur untuk ikut program 1.000 teknopreneur yang ditargetkan pemerintah. "Tidak hanya ITB, ada juga IPB, Guna Dharma, STMIK yang semuanya delapan perguruan tinggi," katanya di ITB, Jumat (8/1).

Ia menambahkan, kampus yang diajak kerja sama di antaranya dari luar Jawa juga. Khusus dengan ITB, Kominfo bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB.

Masing-masing kampus, kata dia, akan menggeluti bidang yang berbeda dalam bisnis digital tersebut, sehingga dihasilkan starup-starup yang beragam.

"Perguruan tinggi memegang peranan penting dalam pengembangan teknopreneur. Bahkan paling penting dibandingkan elemen lain, karena kalau elemen lain biasanya sudah jadi bisnis," terangnya.

Ia menjelaskan, target 1.000 teknopreneur 2020 berdasarkan perhitungan bahwa bisnis digital ini berpotensi menghasilkan USD 130 miliar. Syaratnya, Indonesia harus mampu menumbuhkan pengusaha-pengusaha yang bergelut di bidang teknologi digital atau starup.

"Setelah dihitung-hitung ternyata kita harus memiliki 200 teknopreneur setiap tahun atau 1.000 sampi 2020," katanya.

Untuk menghasilkan 200 teknopreneur, kata dia, prosesnya sangat panjang, harus ada pendidikan dan pelatihan yang tersetruktur dan sistematis. Dengan kata lain, bisnis starup ini tidak cukup hanya sekadar hobi.

"Memang dari hobi kadang ada yang berhasil. Tapi (perlu diketahui) bagaimana dari sisi legal, mematenkan, melakukan kajian riset pasar, dan lain-lain," katanya.

Kredit

Bagikan