Emil: Kampanye hitam kerjaan orang panik


Bandung.merdeka.com - Ridwan Kamil diserang kampanye hitam pada masa tenang beberapa hari jelang pencoblosan. Sejumlah leaflet yang isinya menyerang figur Ridwan Kamil terkait LGBT ditemukan di bangku taman di depan pom bensin Jalan Ir. H Djuanda (Dago) pada Minggu (24/6) kemarin.
Menanggapi hal tersebut, Ridwan Kamil menyayangkan adanya kampanye hitam yang menyerang dirinya. Pria yang akrab disapa Emil menyebut jika kampenye hitam tersebut merupakan pekerjaan orang panik.
"Iya Saya bilang itu (kampanye hitam) kerjaan orang orang panik. Orang-orang yang tidak bisa memenangkan dengan gagasan. Dia memenangkan dengan mencari keburukan orang," ujar Emil kepada wartawan di Pendopo Kota Bandung, Senin (25/6).
Namun Emil yakin adanya kampanye hitam yang menyerang dirinya tidak akan banyak berpengaruh pada hari pencoblosan 27 Juni mendatang. Menurutnya pemilih di kota Bandung merupakan pemilih rasional. "Saya meyakini Bandung kan urban voters pemilihnya lebih rasional tidak akan terpengaruh," katanya.
Menurut Emil, kampanye hitam serupa juga pernah menyerang dirinya saat Pilwalkot 2013 lalu. "Dulu 2013 Saya menemukan spanduk dan selebaran. Isunya berubah-ubah tapi enggak relevan," ungkapnya.
Sementara itu, pada hari kerja pertamanya menjadi Wali Kota Bandung usai menjalani cuti pilkada, Senin (25/6) Emil memimpin upacara bendera di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana.
Menjelang momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018, Emil mengatakan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Bandung untuk memastikan pilkada berjalan lancar. Terutama kepada aparat kewilayahan seperti kecamatan dan kelurahan.
"Para ASN, khususnya di kecamatan-kecamatan agar meningkatkan partisipasi untuk menunjukkan di Kota Bandung ini demokrasi begitu meriah, begitu ramai, dan semua warga negara menggunakan haknya,” ujar Emil.
Emil meminta, semua ASN mengupayakan agar tingkat partisipasi pada Pilkada Serentak ini minimal mencapai 70 persen. Ia mengingatkan bahwa memilih kepala daerah adalah kewajiban warga negara.
“Kalau di Australia, warga negara yang tidak memilih itu kena denda, saking wajibnya. Karena itu kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai warga negara,” katanya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak