Hadir di dies natalies STP Bandung, Gubernur Lemhanas bahas soal ketahanan nasional

Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo
Bandung.merdeka.com - Hadir dalam acara Dies Natalies Sekolah Tinggi Pariwisata (STP NHI) Bandung yang ke 56, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo membahas perihal pemahaman yang mendalam mengenai pariwisata dan ketahanan nasional.
"Dari gambaran tentang konsepsi ketahanan nasional, perkenankan saya memberi beberapa catatan kekinian tentang pariwisata Indonesia guna saya kaitkan kondisi tersebut dengan kondisi ketahanan nasional," ujar Agus, Senin (12/3).
Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 mei 1965, kata dia, dirancang dan diberi mandat oleh Presiden Soekarno sebagai lembaga yang mengawal ketahanan nasional.
Mandat tersebut dilakukan melalui peran mendidik calon pemimpin tingkat nasional dengan wawasan nasional empat konsensus dasar dan nilai kebangsaan, terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika, dengan doktrin operasionalnya wawasan nusantara, ketahanan nasional dan kewaspadaan nasional.
Pada saat peresmiannya, lembaga ini diberi nama Lembaga Pertahanan Nasional, namun dengan pertimbangan yang disampaikan oleh Presiden Soekarno bahwa konsepsi pertahanan suatu bangsa harus mempertimbangkan posisi geopolitik dan didasarkan kepada totalitas kekuatan nilai dan potensi bangsa tersebut.
Akhirnya nomenklatur pertahanan diganti menjadi ketahanan karena tidak hanya membahas pertahanan dalam arti teknis, tetapi mencakup seluruh kekuatan dan potensi bangsa.
"Core dari bidang studi yang diajarkan dalam program pendidikan yang menjadi kerangka analisis adalah geografi, sumber kekayaan alam, dan demografi yang disebut sebagai tri gatra sebagai kondisi statis bangsa, serta penjabaran dari demografi dalam kondisi dinamis bangsa meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan kemananan yang disebut panca gatra sebagai kondisi dinamis bangsa," jelas dia.
Keseluruhan gatra sebagai core kerangka analisis yang dilakukan di Lemhannas disebut delapan gatra atau asta gatra. Ketahanan nasional tidak merupakan disiplin ilmu tersendiri, sehingga kurang tepat bahwa di Lemhannas para peserta program pendidikan diajarkan ilmu ketahanan nasional.
Arti ketahanan sendiri dalam merriem webster dictionary didefinisikan sebagai “the ability of an entity to anticipate, prepare for and respond and adapt to incremental change and sudden disruption in order to survive and prosper”.
Dalam konteks ketahanan nasional, Lemhannas mengartikannya sebagai kondisi dinamis bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, acaman, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun luar yang dapat membahayakan integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Dikatakan bahwa ketahanan nasional bukan merupakan sebuah disiplin ilmu tersendiri, melainkan lebih merupakan sebuah kondisi atau outcome. Sebuah definisi yang ingin memberi gambaran yang lebih konkret dapat dirumuskan, bahwa sebuah kondisi ketahanan nasional yang baik dapat dicapai bila dapat diwujudkan ketahanan ideologi, ketahanan politik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosial budaya dan ketahanan pertahanan keamanan yang baik.
Dasar pengetahuan untuk mewujudkan ketahanan masing-masing gatra terdapat pada disiplin ilmu masing-masing. Pendekatan lain yang dapat memberikan gambaran konkret tentang definisi ketahanan nasional dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan spasial geografis.
Dengan menggunakan pendekatan ini maka dikatakan bahwa ketahanan nasional akan baik bila ketahanan tiap provinsi dalam keadaan baik. Kombinasi dari pendekatan gatra dan spasial geografis akan memberi kelengkapan bagi komponen yang membentuk ketahanan nasional, sebagai metode yang digunakan oleh Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas).
Laboratorium ini mengadakan pengukuran gatra pada tingkat provinsi untuk kemudian menghasilkan nilai agregat pada tingkat nasional. Di tingkat nasional ketahanan nasional juga didapat dari nilai agragat pengukuran gatra pada tingkat nasional.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak