Bantuan pangan non tunai butuh dikaji ulang agar lebih efektif

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat
Bandung.merdeka.com - Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Karniwa mengatakan, program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) harus dikaji lagi. Ada banyak kekhawatiran atas program ini karena masyarakat tidak lagi secara langsung mendapatkan beras seperti program sebelumnya yakni raskin (beras miskin) dan rastra (beras sejahtera).
"Kehadiran program BPNT ini harus dikaji betul. Harus jadi pertimbangan matang karena kalau masyarakat kelaparan yang disalahkannya pemerintah lagi. Takutnya tidak tepat sasaran, makanya harus ada evaluasi lagi," ujar Iwa kepada Merdeka Bandung saat ditemui dalam acara seminar nasional 'Membedah Efektivitas Program Beras Sejahtera dan Bantuan Pangan Non Tunai', Selasa (26/9).
Sejak 2002, untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarajat, khususnya kalangan yang berada pada garis kemiskinan, pemerintah menggulirkan berbagai program yang di antaranya adalah program raskin.
Namun, selama itu pula pelaksanaan raskin bukan berarti tanpa kendala. Ada beberapa permasalahan dalam penyaluran raskin. Antara lain, pagu yang kurang mencukupi atau kurang sesuai dengan Rumah Tangga Sasaran ( RTS), data yang tidak singkron, kualitas beras, dan adanya keterlambatan penyaluran.
Kemudian tahun 2017 pemerintah meluncurkan rastra yang merupakan metamorphosis rastra. Agar lebih memudahkan masyarakat memperolehnya, pemerintahpun kemudian memberlakukan program BPNT.
"Kami mendapat tugas dari pemerintah untuk menangani, mengelola, dan mendistribusikan tiga komoditi taitu beras, jagung, dan kedelai. Bulog punya peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional," terang Kepala Divisi Penyaluran Perum Bulog, Basirun.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jabar, Aldrin Herwani mengatakan, program non tunai adalah hal yang sulit terhindarkan. Sistem ini, sudah berlangsung dibanyak negara. Pelaksanaan BPNT memiliki nilai positif dan negatif.
"Positifnya BPNT mampu mendorong literasi dan inklusi keluarga. Program ini juga mampu membantu perkembangan sektor UMKM. Kelemahannya adalah ketersediaan infrastruktur yang masih minim," terangnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak