Angka kematian ibu di Jabar rata-rata lebih tinggi dari nasional

Budi Rajab
Bandung.merdeka.com - Staf pengajar program studi antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran (Unpad), Budi Rajab mengatakan, rata-rata jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Barat masih lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat nasional.
"Jumlah kematian ibu di Jabar mencapai 250 orang per 100 ribu kelahiran hidup. Lebih tinggi dari tingkat nasional yang angkanya di bawah 200 kematian ibu," ujar Budi saat ditemui dalam acara diskusi "Pencegahan Kematian Ibu dan Bayi" di Graha Kompas, Rabu (30/11).
Budi menjelaskan, hampir setengah kematian perempuan dewasa atau yang sudah menikah di Jawa Barat adalah kematian ibu. Setiap setengah jam seorang perempuan meninggal karena kehamilan dan persalinan atau lebih dari satu di antara empat kematian perempuan berkaitan dengan kehamilan dan proses melahirkan.
Jumlah AKI merupakan angka yang kritis bagi pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan penurunan kemiskinan. Ini berarti masih tingginya AKI di Jawa Barat menandakan masih adanya kendala dalam upaya menaikkan angka IPM dan penurunan jumlah orang-orang miskin.
"Sebenarnya lewat penanganan medis profesional, dokter-dokter ahli kebidanan dengan dibantu sarana dan peralatan medis yang relatif canggih serta obat-obatan yang tersedia 90 persen kematian ibu dapat dicegah dan ditanggulangi," jelasnya.
Salah satu penyebab langsung terjadinya kematian pada ibu adalah pendarahan. Penyebab terjadinya pendarahan ini adalah karena kekurangan gizi. Seorang ibu dinyatakan kekurangan gizi bila jenis dan kualitas makanan yang masuk ke dalam tubuhnya kurang mengandung zat gizi.
Hasil penelitian mengenai kematian ibu di daerah pedesaan Jawa Barat mengidentifikasikan bahwa ada hubungan antara kematian ibu dengan kemiskinan. Dengan kata lain, kemiskinan berkolerasi dengan kondisi kesehatan yang rendah. Kemiskinan ini berhubungan dengan cara perawatan kehamilan dan persalinan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa persalinan oleh paraji sekitar 65 persen, jauh di atas rata-rata nasional diangka 50 persen dan mereka yang biasa memanfaatkan paraji adalah ibu-ibu dari keluarga miskin.
"Yang menjadi alasan memanfaatkan paraji ini karena ada kemudahan cara pembayaran, tidak harus dengan uang, tetapi juga dapat berupa kain untuk pakaian atau hasil bumi sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak. Kalaupun membayar dengan uang juga bisa diangsur," kata Budi.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak