Ini pemenang lomba nulis puisi Majelis Sastra Bandung

Sastra Bandung
Bandung.merdeka.com - Dewan juri memutuskan tiga pemenang lomba menulis puisi Majelis Sastra Bandung (MSB). Mereka berhasil menyisihkan ratusan peserta lainnya. Mereka juga berhak atas hadiah total Rp4,5 juta.
Pemenang pertama lomba menulis puisi bertajuk “Kondisi Indonesia Saat Ini” adalah Novia Rika (Tangerang) yang membuat puisi dengan judul “Orangutan Liar.”
Pemenang kedua Faisal Oddang (Makasar) lewat puisi berjudul “Kepada Selangkangan,” dan pemenang ketiga diperoleh Elly Maryati (Bandung) dengan puisi “Dongeng Kebangkitan.”
Ketua Panitia Tirena Oktaviani mengatakan, pemenang satu, dua dan tiga mendapat uang Rp 2.000.000, Rp 1.500.000 dan Rp 1.000.000 dipotong pajak.
“Majelis Sastra Bandung sudah sering menggelar lomba semaca ini, dan hadiahnya hasil dari patungan. Kali ini hadiah diberi oleh Balai Bahasa Jawa Barat,” terang Tirena, kepada Merdeka Bandung, Sabtu (2/4).
Ia menyebutkan, jumlah puisi yang diterima panitia lomba sekitar 160 puisi dari 69 orang pengirim. Peserta dari berbagai daerah seperti Batam, Yogyakarta, Makasar, Klaten, Sumatera Barat, Tangerang, Jakarta, Madura, Garut, Sumedang.
Lomba tersebut dinilai dewan juri terdiri dari Dian Hartati, Heri Maja Kelana dan Topik Mulyana. Dewan juri menilai karya ketiga pemenang dapat mewakili kondisi Indonesia saat ini.
Kelebihan para pemenang ada pada sudut pandang, tema serta gaya ungkap puisi. Salah seorang juri, Heri Maja Kelana, mengatakan secara keseluruhan puisi puisi peserta lomba terjebak dengan tema “Kondisi Indonesia Saat Ini.”
“Para penulis lebih memilih pada tema yang artifisial, tema yang tidak menyublim pada diri seorang penulis,” kata Heri.
Ia mengatakan, membicarakan Indonesia saat ini akan terdiri dari beragam tema. “Pasti akan membicarakan A, B, atau Q. Artinya masalah yang dimunculkan pada puisi lebih pada tempelan masalah-masalah yang terjadi tanpa ada perenungan yang panjang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kekuatan bahasa yang dipakai para peserta lomba, mulai pilihan diksi dan majas yang kurang diperhatikan. Banyak para penulis yang tidak kuat pada wilayah bahasa.
Selain itu, lompatan imaji yang dibangun oleh para penulis terlalu jauh, sehingga tidak ada keterkaitan antar bait-bait yang ditulisnya. Sehingga isotopi yang dibangun tidak terlalu kuat.
“Masalah yang terjadi pada puisi-puisi yang kami baca juga terjadi pada nilai rasa. Lemah nilai rasa pada puisi yang kami baca disebabkan karena kurangnya perenungan terhadap suatu tema yang diangkat,” terangnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak