200 Ribu pekerja di Bandung belum dapat perlindungan sosial


Ilustrasi May Day 2018
Bandung.merdeka.com - Jumlah pekerja yang belum terdaftar dalam program perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan masih cukup tinggi di Kota Bandung. Jumlahnya ada sekitar 200 ribu pekerja di Kota Bandung yang belum ikut program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Bandung Suci, Suhedi, mengatakan para pekerja yang bekerja di perusahaan sebagian besar sudah mengikuti program jaminan sosial. Namun ada juga yang belum terdaftar menjadi peserta program jaminan sosial.
"Kalau belum tercover angka persisnya Saya belum tahu, karena memang ada yang bekerja dari luar Bandung segala macam banyak sekali. Tapi memang ada sekitar 25 persen atau 200 ribuan yang belum tercover (program perlindungan sosial)," ujar Suhedi kepada wartawan.
Menurut Suhedi, di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Bandung Suci sendiri saat ini sudah ada 320 ribu pekerja yang telah mengikuti program jaminan sosial ketenagakerjaan. Dia menyebut bukan hanya buruh yang bekerja di sektor industri, pekerja yang belum mengikuti program jaminan sosial ini seperti pekerja di sektor usaha kecil.
"Jadi bukan hanya buruh tapi pekerja-pekerja yang di industri seperti percetakan, usaha-usaha kecil mereka banyak enggak ikut. Kalau terbesar sekarang yang enggak ikut itu peserta dari BPU (bukan penerima upah) seperti pedagang, tukang ojek, banyak yang belum ikut," katanya.
Suhedi mengungkapkan, masih banyak pekerja kurang menyadari pentingnya perlindungan sosial. Sehingga masih banyak dari mereka yang belum mengikuti program jaminan sosial ketenagakerjaan. Padahal biaya premi yang dibayarkan per bulan tergolong murah yakni sebesar Rp 6.750 untuk dua program jaminan yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
"Dari pengalaman Saya, kalau udah ada testimoni itu mereka baru tergerak. Contoh misalnya temannya ikut, terus meninggal atau kecelakaan dengan biaya sekian puluh juta. Begitu mereka kecelakaan wah betul gratis baru mereka sadar. Padahal nggak seperti itu harusnya. Jadi memang tingkat kesadaran berasuransi itu kurang," ungkapnya
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak