Penyempitan sungai sebabkan flash flood di Pagarsih

Mobil terseret arus banjir
Bandung.merdeka.com - Berbeda dengan banjir yang terjadi di daerah Cieunteung, banjir di Jalan Pagarsih yang menghanyutkan tiga mobil itu terbilang ganas. Banjir tersebut dinamakan flash flood. Banjir ini memiliki energi yang besar meskipun intensitas hujan kala itu cukup singkat.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Yudha Mediawan mengatakan, flash flood merupakan banjir bandang. Banjir yang seperti terjadi di Pagarsih ini cukup berbahaya karena memiliki energi besar untuk menghanyutkan segala yang menghalanginya.
"Beda ya kalau di Cieunteung itu lama karena aliran airnya tenang. Kalau banjir yang terjadi di Pagarsih itu sama seperti banjir di Garut," ujar Yudha kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Grand Royal Panghegar Hotel, Selasa (15/11).
Untuk banjir yang terjadi di Pagarsih dan Pasteur beberapa hari lalu, kata dia, disebabkan karena meluapnya Anak Sungai Citepus (Sungai Cianting, Sungai Cipedes, dan Cilemahnendeut) akibat sedimentasi dan perubahan tata guna lahan di bagian hulu serta penyempitan penampang sungai akibat penyerobotan lahan sungai.
Kemudian karena kondisi dasar sungai yang cukup curan menyebabkan aliran banjir sangat cepat datang dan juga cepat hilang atau disebut flash flood, terakhir karena pola hujan dalam 1,5 jam sebesar 77,5 milimeter yang menyebabkan tidak mencukupinya kapasitas drainase jalan.
"Kapasitas drainase jalan yang sempit sehingga tidak mampu menampung derasnya air yang mengalir karena hujan dan membuat terjadinya pelimpasan ke jalan raya. Itulah yang membuat banjir Pagarsih dan Pasteur begitu tinggi," jelasnya.
Tak hanya Pasteur dan Pagarsih yang banjir, beberapa daerah di Bandung juga belakangan tengah dikepung banjir ketika hujan deras. Jadi artinya Bandung sedang dalam kondisi rentan.
"Hanya dengan hujan 50 milimeter dalam waktu dua jam saja misalnya, itu bisa menyebabkan banjir. Kerentanan ini harus diantisipasi karena lingkungan rusak dibangun jalan, rumah dan tutupan lahan itu harusnya jadi daerah resapan," ujar Yudha.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak