Ini permasalahan Sungai Citarum dari hulu ke hilir

Sungai Citarum
Bandung.merdeka.com - Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Yudha Mediawan mengatakan, banjir yang menerjang wilayah Bandung ini tak lepas dari gambaran permasalahan dari citarum hulu menuju hilir. "Harus dibenahi dari hulu ke hilir agar Bandung bebas banjir," ujar Yudha kepada Merdeka Bandung saat ditemui dalam acara Seminar Solusi Penanggulangan Banjir Citarum di Grand Royal Panghegar Hotel, Selasa (15/11).
Berikut adalah permasalahan Citarum Hulu yakni lahan kritis 26,022 hektare (20 persen) dan erosi sebesar 592.11 ton per hektare per tahun, sampah 500.000 meter kubik per tahun yang tidak dapat ditampung masuk ke sistem drainase dan sungai.
Kemudian sedimentasi 7,9 juta ton per tahun masuk ke sungai Citarum akibat tingginya erosi yang terjadi di daerah hulu sunga dan sungai tercemar dari limbah industri yang dibuang ke Sungai Citarum setiap harinya. Selanjutnya adalah permukiman berkembang tanpa perencanaan yang baik dan juga tanpa memperhatikan tata ruang yang ada serta penurunan tanah dicekungan bandung 4-5 centimeter per tahun karena pengambilan air tanah yang berlebihan oleh industri.
"Untuk permasalahan Citarum tengah satu ada keramba terapug yang melampaui daya dukung yaitu mengakibatkan menurunnya kualitas air Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur yang berdampak pada kesehatan masyarakat dan berkurangnya umur pelayanan hidromekanikal pada waduk," ujarnya.
Lalu belum adanya koordinasi dan implementasi SOP terpadu kaskade tiga waduk, hilir emergency spillway Waduh Jatiluhur di Ubrug, telah dipenuhi permukiman dan menurunnya kondisi hidromekanikal waduk Ir. Djuanda.
"Portrait permasalahan Citarum tengah dua adalah sedimentasi Waduk Saguling dan Cirata. Sedimentasi di Waduk Saguling mencapai 8.2 juta meter kubik setara dengan laju 3 milimeter per tahun dan angka tersebut tiga kali lebih cepat dibanding laju perencanaan sebesar 1 milimeter per tahun," kata Yudha.
Untuk permasalahan Citarum hilir karena menurunnya kondisi dan fungsi prasarana irigasi, rusak berat 16 persen, dan rusak tingan 31 persen yang mengakibatkan menurunnya produksi padi di Waduk Jatiluhur yang menyumbang 6 persen produksi nasional.
"Permasalahan lainnya adalah kurangnya prasarana penganan abrasi pantai, beluk memadainya kondisi dan fungsi prasarana pengendali banjir, serta belum terpenuhinya penyediaan air baku Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi dan DKI Jakarta," kata dia.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak