Waspada! Teroris propaganda pelajar, lewat cara ini
BNPT gelar Dialog Pencegahan Paham Radikal Terorisme di kalangan Guru dan Pelajar se-Jabar
Bandung.merdeka.com - Propaganda paham radikalisme dan terorisme di kalangan pelajar terus menghantui hampir di seluruh penjuru Indonesia. Apalagi seiring dengan berkembangannya teknologi, semakin masif juga cara terorisme menyuarakan propagandanya.
BNPT menggelar Dialog Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan ISIS di kalangan Guru dan Pelajar se-Jabar, di Gedung Sabuga, Kota Bandung. Dialog dihadiri langsung Kepala BNPT Komjen Pol Saud Usman Nasution, anggota Komisi III DPR RI Ruhut Sitompul, Wagub Jabar Deddy Mizwar dan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad.
"Sejak 2010 kami mendapatkan laporan dari sejumlah fraktisi. Paham radikalisme sudah mulai masuk sekolah-sekolah di Indonesia," kata Hamid. Selasa (8/3).
Pertama laporan yang diterima pada enam tahun silam adalah propaganda hadir melalui pelajaran agama dan ekstrakulikuler agama. "Kami berkoordinasi Polisi dan Kemenag saat itu. Ada beberapa siswa SMA dan SMK yang diambil kepolisian saat itu, sehingga dihadirkankanlah permen untuk merubah pola ekskul di sekolah," ujarnya.
Kedua, cara masif yang dilakukan yakni melalui buku pelajaran. Bahan ajaran yang tersebar di Indonesia terkadang tidak bisa sepenuhnya dikontrol kementrian. "Buku yang ditulis sebelumnya dinilai dulu, tapi sekarang tidak dinilai dan langsung diedarkan," ungkapnya.
Sadisnya kata dia, laporan yang diterima propaganda terorisme disasar mulai dari PAUD dan TK. "Dulu kewenangan kami bisa mencabut, kita tinggal koordinasi dengan kejaksaan, tapi sekarang harus pengadilan," terangnya.
Dan yang paling gencar dan sangat riskan karena fungsi kontrol ada di diri masing-masing adalah hadir lewat media sosial. "Sekarang yang paling akhir dan gencar, online media sosial dan itu langsung masuk handset anak-anak kita. Itu perlu kita cermati bersama. Pemerintah hanya bisa mencegah dalam lingkungan yang bisa dicegah," ujarnya.
Dihadapan sekitar 1.500 pelajar yang hadir di Jabar, pihaknya mengajak agar tidak mencerna mentah-mentah informasi apa saja yang masuk, apalagi melalui gadget. "Ayo diri kalian tidak mencerna apa saja yang masuk ke dalam gadget kita. Kalau sekolah bisa mencegah, tapi kita tidak bisa yang masuk di rumah dan handphone," ungkapnya.
Deddy Mizwar mengatakan, dengan kegiatan yang digelar ini, semoga manfaat dan memainkan peran untuk melakukan pencegahan aksi terorisme dan radikalisme bisa dicerna semua siswa yang ada di Jabar.
"Kegiatan seperti ini perlu kita dukung bersama. Semoga kegiatan ini memberi tambahan wawasan dan pengetahuan," ungkapnya pria yang akrab disapa Demiz ini.
Tag Terkait
Proses PPDB dimulai hari ini, begini aturan lengkap PPDB 2018 Kota Bandung
Mengintip kecanggihan Gedung Labtek XIV ITB
Orangtua di Bandung mengeluh sulitnya akses informasi pendaftaran SMA
Aplikasi ini bisa deteksi siswa bolos
Pemkot Bandung anggarkan Rp 1,4 triliun untuk Program Pendidikan 2017
Emil: Pendidikan sekarang berbeda, tantangannya lebih besar
Tel-U resmikan perpustakaan modern megah dan nyaman
Sekolahan tak punya komputer, 3.163 siswa di Bandung tak ikut UNBK
UN 2017, Disdik Kota Bandung Target 60 persen UNBK
Mulai tahun ini pengelolaan SMA/SMK diambil alih provinsi