Simak tips manajemen penyimpanan ASI Perahan ini

Oleh Mohammad Taufik pada 27 Januari 2016, 13:12 WIB

Bandung.merdeka.com - Terpaksa meninggalkan si kecil karena kondisi tertentu membuat seorang ibu tidak dapat menyusui buah hati secara langsung. Namun jangan khawatir, karena dengan memerah payudara atau memompanya, ibu masih dapat 'menyambung nyawa' si kecil.

Pertanyaannya, bagaimana sih manajemen cara penyimpanan ASIP (air susu ibu perahan) yang baik? ASI merupakan cairan hidup berisi nutrisi dan zat imun yang sangat penting bagi bayi. Maka dari itu, sangatlah penting bagi ibu mengetahui bagaimana cara membuatnya agar tetap selalu segar dan terjaga kualitasnya.

Sebelum memerah atau memompa ASI, pertama yang harus disiapkan adalah mencuci tangan atau mencuci-sterilkan alat bantu memerah ASI. Penyimpanan sebaiknya dilakukan dalam wadah yang dianjurkan, tertutup dengan baik dan diberi label penomoran tanggal dan waktu perah serta nama bayi.

Jumlah takaran ASI Perahan sebaiknya berkisar sekitar 60-120 ml (biasanya untuk sekali minum) dalam satu wadah untuk menghindari pemakaian wadah berlebihan. Isi botol hingga batas leher botol jangan sampai memenuhi botol karena ASI akan meluap.

Bila dalam satu kali perah didapatkan kurang dari itu, penggabungan ASI Perahan dapat dilakukan dengan cara didinginkan di dalam kulkas secara terpisah terlebih dahulu sebelum disatukan dalam satu wadah. Jarak perah tidak lebih dari 24 jam dan jangan menggabungkan ASI Perahan yang segar dengan yang beku.

Inti dari penyimpanan sendiri adalah:

1. Jangan menghangatkan ASI Perahan yang telah dihangatkan, dan jangan membekukan ASI Perahan kedua kalinya setelah dibekukan.

2. Sebaiknya hindari peningkatan atau penurunan suhu secara drastis. Jadi bila ingin memasukkan ASI Perahan yang baru diperah, sebaiknya dinginkan perlahan dengan cara memasukkan ke kulkas bawah, lalu setelah suhu sudah rendah, dapat dipindahkan ke freezer. Begitu juga bila ingin memberikan kepada bayi, cairkan dulu ke kulkas bawah lalu taruh di suhu ruangan.

3. Semakin dingin maka semakin lama ASI Perahan dapat disimpan.

Wadah penyimpanan ASI Perahan

Ada beberapa pendapat pilihan mengenai media yang baik untuk penyimpanan ASI Perahan

1. Botol kaca

Pilih botol yang memiliki tutup tidak mudah lepas. Kelebihan botol ini tidak beresiko terkontaminasi zat berbahaya akibat pemanasan botol ketika disterilkan. Sisa ASI dan zat penting dari ASI tidak menempel pada botol kaca dan mudah didapat dimana saja. Kekurangannya mudah pecah bila terjatuh dan penyimpanannya memakan tempat dalam freezer.

2. Wadah stainless

Kelebihan wadah ini tidak beresiko terkontaminasi zat berbahaya akibat pemanasan ketika disterilkan. tidak mudah pecah, sisa ASI atau zat penting ASI tidak menempel. Kelemahannya wadah ini sulit didapat.

3. Botol plastik

Pilihlah plastik bebas BPA (Bisphenol A). Botol ini mudah didapat, tetapi kelemahannya saat penyimpanan memakan tempat dalam freezer dan terkadang mudah sekali rusak ketika beku.

4. Kantung plastik yang didesain khusus untuk ASI Perahan

Kelebihan penyimpanan sangat efisien, dapat lebih banyak menyimpan ASI Perahan dalam freezer. Namun kelemahannya sisa ASI dan lemak banyak terbuang karena menempel di dalamnya dan terkadang plastik mudah rusak ketika beku.

Memberikan ASI Perahan pada bayi

Pilih ASIP beku yang labelnya berisi waktu tanggal lebih lama atau biasa disebut FIFO yaitu First In First Out. Proses mencairkan dan menghangatkan ASI Perahan sebaiknya jangan dilakukan secara terburu-buru atau langsung mencairkan dengan cara menggodok botol berisi ASI Perahan atau pula menggodok ASI Perahan karena akan merusak kandungan gizi nya.

Lakukanlah penghangatan secara perlahan dengan cara mencairkan ASI Perahan beku terlebih dahulu di dalam kulkas selama 12 jam setelah dipindahkan dari freezer atau biasanya semalam sebelum akan diberikan kepada bayi.

Setelah itu dapat dihangatkan dengan beberapa cara seperti rendam botol dalam air hangat. Setelah itu, aduk ASI Perahan secara perlahan untuk menyatukan lapisan gizi dalam ASI Perahan. Ingat, jangan mengocoknya karena akan merusak kandungan gizinya.

Media pemberian ASI Perahan pada dasarnya hindari penggunaan dot, karena telah banyak dilakukan penelitian, banyak sekali kerugian akibat pemberian menggunakan dot seperti bingung puting, produksi ASI menurun, cikal bakal proses makan yang terganggu hingga terganggunya tumbuh kembang anak.

Sebaiknya pilihan media pemberian ASI Perahan adalah cup feeder atau cangkir khusus ASI Perahan, juga dapat diberikan melalui pipet. Cuci-sterilkan media setelah dipakai. Masalah yang sering didapat ketika menyimpan ASI Perahan beku adalah listrik padam, tentu ini membuat repot para ibu, tetapi jangan panik, selalu siapkan ice gel beku atau es batu yang dapat membantu ASI Perahan tetap beku.

Simpan botol sangat berdekatan satu sama lain, dan sisipkan ice gel tersebut dan jangan buka freezer hingga listrik kembali menyala.

ASI Perahan yang telah dicairkan tentunya akan berbeda dengan ASI Perahan segar dilihat dari bau dan konsistensinya. Namun itu tidak menjadi masalah dan bayi tetap dapat meminumnya. Bayi akan menolak bila memang kualitas ASI Perahan sangat tidak baik.

Maka dari itu biasanya para konselor laktasi menganjurkan lebih baik menyusui secara langsung untuk mendapat ASI segar dan lebih baik bila disiapkan lebih dekat dengan jadwal pemberian ASI Perahan.

ASI Perahan beku boleh saja disimpan. Namun ingat, jangan sampai mengejar target jumlah hasil perahan tetapi bayi tidak dapat menyusu langsung dari ibu dan tidak mendapat ASI cukup. Tetap susui langsung selama ibu bersama dengan bayi.

Tag Terkait