Cara berlalu lintas jadi tolak ukur kedewasaan seseorang

Oleh Farah Fuadona pada 12 Januari 2016, 10:37 WIB

Bandung.merdeka.com - Cara berlalu lintas mencerminkan kepribadian seseorang. Kematangan emosi atau mental dan kedewasaan dapat dilihat dari prilaku di jalan.

Kepala Program Studi Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Unpad, dr. Teddy Hidayat, mengatakan banyak kasus kecelakaan lalu lintas yang disebabkan faktor manusia. Bahkan, tidak sedikit korban yang berusia remaja.

Banyaknya korban kecelakaan yang berusia muda, menurut Teddy, terkait dengan kematangan atau maturitas emosi.

“Anak muda kan kalau disusul panas, keserempet sedikit marah terus ngejar orang yang nyerempetnya. Itu terkait pengendalian emosi masih rendah sehingga rentan perilaku arogan, kekerasan di jalan dan kecelakaan,” kata dia kepada Merdeka Bandung.

Meski demikian, tidak jarang orang tua yang berperilaku kekanak-kanakan saat sedang di jalan raya, terutama pengendara sepeda motor. Sedangkan untuk pengendara mobil, menurutnya relatif lebih terkendali dalam berlalu lintas.

“Pengendara di Indonesia kalau mobil masih lumayan, tapi yang paling tidak teratur itu motor. Kalau dari data kan angka kecelakaan terbesar itu pengendara motor,” terangnya.


Kecelakaan atau ketidakdisiplinan berlalu lintas pada anak muda juga lebih rentan. Sebab usia muda rawan terjerumus penyalahgunaan narkoba dan minuman beralkohol.

Selain itu, lanjut dia, tidak jarang pula anak yang belum cukup umur sudah mengendarai sepeda motor, bahkan mobil. Hal ini, kata Teddy, dipengaruhi faktor orang tua.

Menurutnya, orang yang sudah cukup umur pun tidak semuanya boleh memegang kendaraan. Karena orang yang boleh mengendalikan kendaraan artinya harus sudah dewasa dan bisa mengendalikan emosinya saat berlalu lintas.

“Jadi bukan hanya faktor umur sebenarnya, tapi kedewasaan jauh lebih penting dalam berlalu lintas. Kedewasaan menghargai sesama pengendara, pejalan kaki dan segala macam,” katanya.
Mengenai perilaku berlalu lintas di Indonesia, khususnya di Bandung, ia menilai masih belum mencapai tingkat kedewasaan. Kendati demikian, kondisi tersebut masih bisa diperbaiki.

Untuk anak muda, kedisiplinan berlalu lintas masih bisa diperbaiki. Sebab anak muda masih dalam proses menuju kematangan emosi. Tapi bagi yang usianya sudah dewasa namun masih berprilaku seperti anak kecil, ia berharap ada penegakan aturan atau sanksi yang tegas.

Sanksi tersebut, kata dia, bukan hanya dari aparat penegak hukum tetapi bisa juga sanksi sosial. “Misalnya kalau orang pakai kendaraan dengan kenalpot keras mengganggu semua orang mestinya sosial juga menghukum,” katanya.

Masalah berlalu lintas adalah masalah karakter. Masalah karakter inilah yang seharusnya disentuh gerakan revolusi mental yang digaungkan Presiden Jokowi. “Bagaimana disiplin memenuhi peraturan, mengendalikan diri itu kan yang harus direvlusi mental,” katanya.

Tag Terkait