Tinong Kebaya Bandung kenalkan kebaya hingga ke Singapura

Perancang kebaya, Tina Gantina
Bandung.merdeka.com - Kebaya menjadi pakaian tradisional kebanggaan Indonesia. Di Bandung salah satu perancang busana kebaya adalah Tinong Kebaya. Nina Gantini atau pemilik merek Tinong Kebaya, turut mempromosikan kebaya hingga ke Singapura dan Malaysia.
“Tujuannya agar kebaya mendunia. Saya sudah merintis ikut pameran di Singapore Fashion Week dan juga di Malaysia,” kata Nina Gantini kepada Merdeka Bandung.
Tina yang baru saja mendapat catatan rekor dari Record Holders Republic(RHR)berkat kebaya Black N White rancangannya ini. Sudah sejak lebih dari 10 tahun lalu menggeluti bisnis kebaya. Ia bercita-cita kebaya menjadi pakaian internasional sebagaimana kimono yang diterima masyarakat dunia. “Dari dulu saya harap kebaya menjadi pakaian mendunia seperti kimono,” ujarnya.
Saat ini, masyarakat Indonesia memakai kebaya pada momen-momen istimewa atau spesial. Kebaya dipakai setiap even misalnya wisuda, undangan pernikahan hingga kegiatan keagamaan.
Kendati pemakaian kebaya jarang dilakukan pada kesempatan informal, namun hal itu menjadikan kebaya sebagai busana tradisional yang istimewa.
“Saya mengkhususkan diri merancang busana selain pecinta tradisi dipakainya jarang, tapi dipakai di momen istimewa jadi akan terkenang bagi pemakainya. Jadi saya ada kepuasan tersendiri,” ujar dia saat disinggung kesannya menjadi perancang kebaya.
Perempuan yang membuka galeri Tinong Kebaya di Jalan Teuku Umar, Dago dan Leuwipanjang ini mengaku mengerjakan semua jenis gaun. Hanya saja kebaya menjadi keseriusannya dalam membuat gaun. Itu sebabnya ia mengusung brand Tinong Kebaya yang berasal dari plesetan Tina Gantina Gantinong.
“Agar lebih catchy image-nya, ingat kebaya ingat Tinong,” katanya.
Tidak menutup kemungkinan kebaya menjadi baju tradisional warisan dunia sebagaimana kain batik. Saat ia mengikuti fashion show di Singapura dan Malaysia, masyarakat di sana banyak yang terkagum-kagum.
“Mereka terkagum-kagum karena banyak terdapat hand made dalam kebaya itu, ada payetnya istilah sundanya leuk-leuk (rumit). Dan itu Indonesia punya kesabaran untuk membuat karya yang indah. Batik juga kan detail, kebaya juga begitu,” tuturnya.
BERITA TERKAIT
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
Pengakuan Bharada E di Balik Perintah Tembak dari Atasan
5 Poin Rekomendasi Kebijakan Siap Diusulkan T20 dalam Forum G20
Alami Pengapuran Sendi Lutut? Coba Minum Susu Nutrisi
Perawatan Kulit Kian Diminati, BeautieSS Resmikan Satu Klinik Baru
Aswita Dewi Ingin Batik jadi Pakaian Kekinian
Amazit T-Rex 2 Jadi Jam Tangan Pintar Bagi Para Petualang
Aplikasi Jantungku Jadi Solusi Layanan Kesehatan Jantung, Ini 6 Fitur Unggulannya
Jejak Kopda Muslimin Sebelum Ditemukan Tewas di Rumah Orang Tua
Gleaneagles Hospital Punya Inovasi Teknologi Baru Bernama Gamma Knife
Kerry Indonesia Kembali Meraih Penghargaan HR Asia Awards 2022
Gandeng Aurel Hermansyah, CKL.LOOKS Akan Rilis Produk Eksklusif
Dukungan Orangtua Dalam Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi Pasca Pandemi
Tidak Pelit Ilmu, Hendra Hidayat Dikenal Sebagai Pionir Implan Gigi di Indonesia
Linde Indonesia Akan Pasok Gas Industri dengan Kemurnian Tinggi ke PT Freeport
KORIKA Gelar Webinar Kecerdasan Artifisial (AI) Bidang Kesehatan
Garmin Run Club Menjadi Wadah Bagi Para Pecinta Olahraga Lari
Jam Tangan Pintar yang Bisa Jadi Pilihan Para Pelari Karena Fitur Canggihnya
Alasan Mengapa Reinvestment Keuntungan Sangat Krusial Bagi Bisnis
EdenFarm Berbagi Hewan Kurban dengan Komunitas Tani di Sekitar ECF
Trademark Market Hadir Lagi, Kini Tenantnya Lebih Banyak