Warung Kopi Udin Wati berusaha tanamkan budaya ngopi di Jabar

user
Endang Saputra 08 Agustus 2018, 10:15 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Tak sulit menemukan kedai kopi di Cimahi. Mulai dari kedai kopi besar hingga kecil hadir disetiap sudut kota kecil ini. Namun, ada yang berbeda dari kedai kopi di Jalan Abdul Halim Nomor 17 ini, yakni Warung Kopi Udin Wati. Tempat ini bukan hanya menjual kopi, tapi sang empunya memiliki misi lain.

Faisal Nurdin dan Dian Irawati, sang empunya Warung Kopi Udin Wati berkisah ikhwal berdirinya kedai kopi sederhana ini. Berdiri di atas sebuah garasi mobil berukuran cukup luas, kedua kerabat dekat yang merupakan penikmat kopi ini berusaha untuk menjual kopi dengan kualitas jempolan namun harganya terjangkau.

Hadir sejak 20 Juni 2013, Dian menceritakan asal mula keduanya sepakat untuk mendirikan Warung Kopi Udin Wati. Kata Dian, keduanya suka minum kopi. Bukan hanya memiliki kesamaan dalam hal kopi, keduanya juga tergabung dalam sebuah komunitas yang sama.

"Faisal suka bawa kopi, saya suka buat roti. Singkat cerita, kami membuka bisnis berdua. Kedai kopi kami pilih karena nilai investasi yang rendah. Masing-masing dari kami mengeluarkan modal Rp 2,5 juta dan mengeluarkan semua barang yang kami miliki seperti kompor, perlengkapan membuat kopi dan lainnya," ujar Dian kepada Merdeka Bandung saat ditemui di Warung Kopi Udin Wati, Selasa (7/8).

Dengan modal Rp 5 juta, keduanya menggelontorkan dana tersebut untuk membuat kursi dan meja agar membuat para tamu nyaman saat menyeruput kopi di kedai kopinya. Kondisi tempat terbilang di desain seadanya ini justru berhasil menawarkan kesan rumah yang nyaman.

Bukan hanya fokus merombak tempat untuk terasa lebih nyaman bagi pengunjung, Dian dan Faisal juga menjunjung tinggi kenikmatan setiap gelas kopi yang tersuguh pada pelanggannya. Biji kopi yang menjadi modal utama bisnis ini tentu menjadi fokus utama keduanya.

Menurut Faisal, sejak semula keduanya sepakat untuk menyuguhkan kopi yang layak dari segi harga sampai kualitas. Dengan begitu, ia berharap misi membangun kedai kopi untuk membangun budaya berkumpul dikedai dan menyeruput kopi bisa berjalan dengan lancar. Namun ternyata membangun budaya itu sangat sulit.

"Nyatanya kami memang belum berhasil, soalnya sulit sekali menempelkan budaya ini di Jawa Barat. Beda dengan di Sumatera misalnya. Di sana tuh orang pagi-pagi datang ke kedai kopi, di sini beda. Padahal Jabar dikenal sebagai penghasil kopi dengan kualitas jempolan," papar Faisal.

Salah satu upaya untuk membangun kebiasaan ngopi pagi ini adalah Warung Kopi Udin Wati menjual bubuk kopinya mulai dari satu gram. Setiap gramnya dibanderol dengan harga Rp 150 perak. Untuk membuat secangkir kopi, hanya dibutuhkan 10 hingga 12 gram saja.

"Kopi kami bisa dibeli pergram. Jadi orang-orang bisa beli bubuk kopi di sini untuk porsi satu cangkir dan seduh dirumah. Ini salah satu upaya kami membangun kebiasaan ngopi. Setidaknya orang-orang sudah mulai meminum kopi asli, bukan yang sachet," jelasnya.

Sementara itu, Dian yang hobi membuat rotipun menuangkan kesukaannya di kedai ini dengan menyuguhkan roti gandum dalam menunya. Menurut keduanya, roti gandum dinilai menjadi tempat paling pas untuk menyeruput segelas kopi panas.

Ingin mencicip kopi di Warung Kopi Udin Wati? Datang saja ke wilayah Cimahi Tengah. Kedai ini buka mulai pukul 15.00 WIB hingga malam hari. Meski terbilang sederhana, kedai kopi ini tak pernah sepi dari pengunjung.

Kredit

Bagikan