Agar meriam tepat sasaran, prajurit TNI pakai ilmu matematika

user
Farah Fuadona 31 Agustus 2016, 10:49 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Menjelajahi persenjataan TNI memiliki keseruan tersendiri, terlebih jika disertai dengan pengalaman simulai penembakan meriam. Pengalaman itu didapat oleh anggota Tjimahi Heritage, sebuah komunitas pecinta sejarah dan bangunan tua Kota Cimahi, Jawa Barat, yang menjelajah Pusat Pendidikan Artileri Medan (Pusdikarmed) TNI AD Jalan Baros Nomor 151 Kota Cimahi.
 
Ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubaraq, menuturkan komunitasnya memiliki program rutin bernama Jelajah. Kali ini Jelajah dilakukan di Pusdikarmed TNI AD yang pesertanya lebih dari 100 orang dari berbagai kalangan, Minggu (28/8).
 
“Kita menjelajah di komplek sejarah Pusdikarmed, dari depan sampai ke belakang. Tapi walau hanya satu kawasan, lumayan capek,” katanya kepada Merdeka Bandung.
 
Meski capek karena medan yang luas, banyak pengalaman dan pengetahuan yang didapat, khususnya mengetahui altileri zaman klasik hingga modern. Peserta bisa melihat meriam yang dipakai VOC-Belanda di saat menjajah Indonesia pada 1796 dan 1856.
 
Meriam-meriam klasik tersebut masih dalam perawatan yang baik. Ada juga meriam buatan Inggris tahun 1942, kemudian meriam tua yang bisa dibongkar pasang menjadi 8 bagian. Sehingga meriam ini tidak muda terdeteksi musuh. Daya lontarnya antara 5-10 kilometer.
 
Peserta juga bisa melihat simulasi pengoperasian meriam yang dilakukan prajurit Pusdikarmed TNI AD. Dari simulasi ini diketahui bahwa tidak mudah mengoperasikan meriam. Prajurit harus menguasai ilmu hitung atau matematika.
 
“Tak mudah menyiapkan meriam, banyak perhitungan-perhitungan matematikanya. Harus menguasai sinus, cosinus, tangent begitu. Tujuannya agar bisa membidik tepat. Harus diketahui sudut-sudut sasaran, dihitung berapa derajat, biar tepat,” kata Machmud.
 
Dengan kata lain, menjadi prajurit TNI tidak hanya memerlukan fisik prima, tetapi juga harus mampu menguasai ilmu pengetahuan. Bahkan selama proses jelajah, komunitas ini didampingi anggota TNI yang memberikan wawasan sejarah.

Kredit

Bagikan