Taman kolong Jembatan Pasupati, berjuang disempitnya pertumbuhan kota

user
Farah Fuadona 30 Juni 2016, 14:24 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Seorang anak bermain layang-layang di lapangan Taman Escade. Taman ini berada di kolong jembatan layang Pasupati. Anak itu cukup lihai menerbangkan layang-layang meski terhalang jalan layang, sejumlah pohon dan atap-atap rumah warga.

Setiap harinya, banyak anak yang nyaman bermain di Taman Escade. Warga sekitar menyebutnya Taman Komunitas, karena di taman tersebut ada komunitas Sungai Cikapundung Kuya Gaya. Para pegiat komunitas tersebut rajin memelihara taman.  

Posisi taman memang cukup kontras, berdiri di tengah pemukiman padat penduduk Kampung Pulosari, Bandung. Taman seluas lapangan futsal itu berada di atas Sungai Cikapundung, anak Sungai Citarum. Belasan tanaman dan pohon menghijaukan area taman, berdiri berhimpitan dengan tiang-tiang beton jembatan.

Sejak musim hujan mulai jarang, tanaman di taman perlu tiap hari disiram. Tanaman tersebut ditanam di atas tanah timbunan yang di bawahnya beton penyangga jembatan. Tanah taman yang hitam hanya melapisi bagian atasnya saja. Sehingga air cepat sekali meresap.

Kendati demikian, tanaman di atasnya tumbuh cukup subur, beberapa pohon walisongo dan pohon karet tumbuh tinggi, membuat nyaman untuk bercengkrama.

Walau hanya seluas lapangan futsal Taman kolong Jembatan Pasupati sangat dimanfaatkan warga
© 2016 merdeka.com/Iman Herdiana

Ketua Komunitas Cikapundung, Handoyo, menuturkan sebelum ada jalan layang Pasupati kawasan tersebut adalah pemukiman padat penduduk. Pembangunan jalan layang menggusur rumah-rumah sekitar. Pembangunan jalan layang selesai 2004. Begitu selesai jalan layang, kampung di kolong jembatan yang menghubungkan Tol Pasteur dengan pusat Kota Bandung itu sempat kumuh, hanya berupa timbunan-timbunan tanah dan batu. Lalu pada 2008 dibangunlah taman yang kemudian dirawat komunitas dan warga sekitar.  

“Kita merasa terpanggil karena hanya inilah tempat bermain anak,” kata Handoyo, kepada Merdeka Bandung, Kamis (30/6).

Menurutnya, saat ini lahan terbuka hijau atau tempat bermain anak di tengah kota sangat sulit. Warga Pulosari beryukur masih punya taman terbuka, meski berada di bawah kolong jembatan.

Menurut Handoyo, banyak sekali anak-anak yang bermain di taman, terutama anak usia SMP dan SD. Rencananya Komunitas Cikapundung akan mendirikan rumah baca di salah satu ruang yang ada di taman. Sehingga anak-anak tidak hanya punya tempat bermain tetapi juga mulai terbiasa membaca.“Sebagian buku sudah siap. Tapi kalau ada yang mau nyumbang kami terbuka, terutama buku-buku anak,” kata Handoyo.

Kredit

Bagikan