Siswa kelas 1 SMA teliti kampung 'terisolir' di Bandung

user
Farah Fuadona 14 Juni 2016, 11:34 WIB
untitled

Bandung.merdeka.com - Mungkin kegiatan sekelompok anak setingkat kelas 1 SMA ini berbeda dengan anak-anak seusianya. Di usianya yang belia, mereka sudah meneliti masalah-masalah sosial dalam suatu kampung.

Mereka adalah siswa Komunitas Petualang Belajar (KPB) kelompok belajar Semi Pilar yang terdiri dari Angelita Zipora, Sebastian Rico Setioso, Asyafa Mutia, Natasha Jeanic, Christopher Gio Sarsono, Viola Kinanti Putri Pranono dan Lian Kyla Kizhaya Sulwen.

Salah satu penelitian mereka adalah Kampung Sekepicung Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan, Bandung, Jawa Barat. Kampung Sekepicung berada di perbatasan yang wilayahnya lebih dekat ke pusat Kota Bandung daripada ke pusat pemerintahan Kabupaten Bandung.

Kampung Sekepicung dekat dengan kawasan Dago, salah satu tempat di Bandung yang penuh dengan kafe, hotel dan sarana wisata lainnya. Mata pencaharian Kampung Sekepicung adalah pertanian.

Namun seiring pesatnya pertumbuhan Kota Bandung, banyak warga yang memilih menjual tanahnya kepada investor. Tanah tersebut kemudian menjadi kafe, hotel atau dibiarkan menjadi tanah kosong.

"Kenapa warga banyak jual lahan ke luar? Temuan kami lahan banyak terjual saat jalan dibuat. Harga lahan di sana menjadi lebih tinggi. Dampaknya Kampung Sekepicung makin ramai, banyak cafe dan hotel," kata Angelita Zipora dalam presentasi peneltian di Semi Pilar, Jalan Sukamulya, Bandung, Senin (13/6).

Viola Kinanti Putri Pranono menambahkan, harga tanah di Kampung Sekepicung cepat sekali mengalami kenaikan, bahkan dalam hitungan hari.

"Ada warga yang menjual 1,5 juta lalu saat mau dibeli kembali setelah dua hari harga tanahnya menjadi 2 juta," katanya.

Ada juga tanah seluas 1.700 meter persegi tahun 2005 dijual Rp 400 juta, saat dijual kembali harganya menjadi Rp 1,4 milyar.

Pada malam hari, lanjut perempuan yang akrab disapa Kinan, warga juga terganggu bising musik yang berasal dari kafe dan hotel yang mengepung kampung.

Pencaharian warga juga berubah drastis. Sebelumnya warga bertani, kini lebih banyak warga kampung yang bekerja di kafe dan hotel.

"Karena kafe dianggap memberikan penghasilan lebih pasti dibanding bertani," jelasnya.

Siswa lainnya, Rico Setioso, penguasaan tanah warga Kampung Sekepicung saat ini sangat sedikit. Sedikitnya tanah membuat mereka tidak memiliki ruang berekspresi, tempat bermain anak dan hilangnya kebudayaan.

"Masalah ini sangat serius. Kampung Sekepicung terisolir, sebelumnya aku tidak tahu ada kampung di situ," katanya.

Presentasi tersebut bagian dari proses belajar di Semi Pilar. Mereka telah belajar selama setahun. Saat ini mereka akan naik ke level setingkat ke kelas dua. Dalam penelitian ini mereka bekerja sama dengan lembaga penelitian Akatiga.

Kredit

Bagikan